Dengan membawa poster, para pelajar berkumpul di tengah halaman sekolah. Dalam orasinya yang dilakukan secara bergiliran, para siswa mengecam habis-habisan tindakan kepala sekolah yang dinilai sudah melampui ambang kewajaran. "Turun... turun... turun," teriak para palajar.
Menurut para siswa, kepala Sekolah telah menilep dana Beasiswa dari program Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM), yang semestinya diberikan ke tiap siswa penerima sebesar Rp 65 ribu/bulan dikalikan satu semester atau enam bulan. Jumlah siswa penerima BKSM sebanyak 114 siswa dari seluruh kelas,termasuk kelas XII (kelas 3) yang baru lulus tahun ajaran kemarin.
Selain itu, para siswa juga menduga jika Sapto Susilo memalsu tanda tangan 114 murid penerima BKSM, sebagai alat pencarian dananya yang mencapai Rp 44 Juta tiap semesternya. Meski telah cair, hingga kini tak satu pun siswa penerima, mendapatkan haknya dari program pemerintah tersebut.
"Kemana larinya uang jutaan rupiah tersebut?, Apa kita tidak berhak atas bantuan pemerintah yang obyek tak lain kita sendiri," teriak salah seorang siswa saat berorasi.
Meski didemo muridnya, Kepala Sekolah Sapto Susilo nampak tenang menghadapinya. Laki-laki berusia 50 tahun ini, dengan santai menjelaskan tiap pertanyaan siswanya.
Menurutnya, tuduhan korupsi tidak benar. Sebab meski dana BKSM sasarannya siswa namun sesuai dengan petunjuk teknisnya, dana puluhan juta rupiah itu sebetulnya dipergunakan untuk biaya operasional sekolah.
Namun anehnya, Sapto justru tidak menampik bahkan mengakui jika ia memalsu tanda tangan ke-114 siswa penerima yang dipergunakan dalam pencarian dana BKSM untuk bulan Januari sampai Juni tahun 2008. "Itu saya lakukan karena siswa kelas XII (kelas tiga) sudah lulus," kilahnya, saat ditemui di ruangannya.
Namun penjelasan tersebut ditolak siswa dengan terus menyuarakan tuntutan agar Sapto Susilo mundur dari jabatannya sebagai Kepala Sekolah. Pasalnya, secara logika siswa kelas XII baru lulus akhir bulan Juni lalu. Dan dana cair pada bulan Juli.
Hingga hari beranjak siang, para pelajar SMA Negeri 1 Tegaldelimo masih terlihat berkerumun, duduk di depan kantor dan menolak untuk mengikuti pelajaran. Belum diketahui secara pasti hasil dari unjukrasa itu.
Bahkan para pelajar mengancam akan terus menggelar unjukrasa hingga tuntutannya dikabulkan. "Kita akan terus demo hingga Pak Kepala Sekolah mundur, besok.. dan besoknya lagi...," ujar Pieter,salah seorang siswa kelas XII SMA Negeri 1 Tegaldelimo. (bdh/bdh)










































