ADVERTISEMENT

Round-Up

Petani, Polisi hingga Menteri Bahas Pro-Kontra Jebakan Tikus Listrik

Tim Detiknews - detikNews
Senin, 10 Jan 2022 21:42 WIB
Ilustrasi kesetrum
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Semarang -

Para petani di beberapa daerah di Jawa Tengah dipusingkan dengan hama tikus. Hewan pengerat itu merusak tanaman padi yang menjadi tumpuan penghasilan bagi petani.

Berbagai cara dilakukan untuk membasmi tikus yang menyerang. Salah satunya menggunakan jebakan listrik yang dianggap cukup efektif untuk membunuh tikus di sawah.

Penggunaan jebakan tikus yang dialiri listrik itu marak di beberapa daerah, terutama di Kabupaten Sragen dan Kudus. Hanya saja, penggunaan jebakan itu ternyata menuai masalah. Jebakan tersebut ternyata juga memakan korban manusia.

Di Sragen, jebakan tikus itu juga menyengat manusia. Sejak 2020, sudah ada 23 warga yang tewas kesetrum karena jebakan tikus beraliran listrik yang dipasang di persawahan. Kasus tersebut menjadi perhatian khusus dari kepolisian.

Polisi menganggap penggunaan listrik untuk jebakan tikus merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan jaringan listrik. Sebab, awalnya pemasangan listrik di persawahan digunakan untuk pompa air.

"Polda Jateng dan jajaran tidak akan segan untuk memproses pidana bila menemukan kasus kematian warga karena jebakan tikus menggunakan aliran listrik," kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes M Iqbal Alqudusy, Minggu (9/1)

Pemasang jebakan listrik juga berpotensi dijerat dengan pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian. Ancaman hukumannya maksimal 5 tahun penjara.

"Arahan Polres kemarin mengganti (jebakan listrik) dengan burung hantu. Sudah ada yang jalan dan itu lebih efektif," kata dia.

Sikap tegas dari Polda Jateng untuk mempidanakan pemasang jebakan tikus menggunakan listrik itu tentu saja didukung oleh jajaran di bawahnya, dalam hal ini Polres Sragen.

"Kami mendukung konsep Polda Jateng untuk menindak pidana pemasang jebakan tikus tanpa menunggu lagi adanya korban," ujar Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi, dihubungi detikcom, Senin (10/1/2022).

Namun, pelaksanaannya ternyata juga tidak mudah. Penyidik harus memastikan unsur kejahatannya untuk bisa menjerat pelaku ke ranah pidana.

"Kita akan penetrasi dulu di awal terkait dengan ada pelanggaran-pelanggaran administrasinya, barangkali untuk instalasi listrik seperti itu harus ada izin atau bagaimana. Itu nanti kita komunikasikan, kemungkinan ada celah di situ," paparnya.

Selain itu, sebagian besar korban dalam kasus jebakan tikus itu ternyata adalah pemasangnya sendiri. Di beberapa kasus, korbannya memang bukan pemasang jebakan namun masih memiliki hubungan kedekatan. Penyelesaian kasusnya pun dilakukan secara kekeluargaan.

"Kita memperhatikan faktor sosiologis hukum. Jadi jangan sampai kemudian penerapan hukum yang kita laksanakan tidak menciptakan rasa keadilan," jelasnya.

Lihat juga video 'Satu Keluarga di Bojonegoro Tewas Kena Jebakan Tikus':

[Gambas:Video 20detik]



Selengkapnya baca halaman berikutnya...



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT