Asal-usul Ngupit Klaten, Kawasan Para Bong Supit Eksis Sejak Era Mataram

ADVERTISEMENT

Asal-usul Ngupit Klaten, Kawasan Para Bong Supit Eksis Sejak Era Mataram

dil, Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 09 Jan 2022 18:25 WIB
Kampung Ngupit, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (9/1/2022).
Kawasan Ngupit, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (9/1/2022). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Daerah Ngupit di Kecamatan Ngawen, Klaten, Jawa Tengah memiliki sejarah panjang profesi tukang sunat atau bong supit. Profesi tersebut bahkan sudah diwarisi generasi ke generasi sejak masa kerajaan Mataram Islam.

"Cerita simbah-simbah dulu, bong-bong supit di sini itu setiap setahun sekali seba (menghadap) ke keraton Solo," ungkap Mugo Laksono (66), warga Dusun Sogaten, Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Klaten pada detikcom, Sabtu (8/1/2022).

Mugo mengatakan di zaman dulu para bong supit di daerah Ngupit (Ngawen dan sekitarnya) dibagi wilayah kerjanya oleh keraton. Ada yang wilayah tengah ada yang ke barat.

"Ada yang wilayah sini ke barat sampai Gunung Merapi. Ada yang Kecamatan Ngawen, Jogonalan ke timur," ucap Mugo.

Di zaman dirinya masih kecil, sebut Mugo, ada beberapa nama bong yang terkenal membuka praktik. Ada nama terkenal seperti Iman Suharjo, Iman Iskandar, Samsuri dan Joyo.

"Ada Mbah Iman Suharjo, Iman Iskandar, Amat Samsuri. Itu ada yang kakak beradik, di Kahuman ada Mbah Joyo mantan Modin (kesra Desa)," lanjut Mugo.

Profesi bong supit itu, sambung Mugo, sampai saat ini masih ada yang meneruskan meski semakin sedikit. Ada pula bong supit yang tak meneruskan profesinya dan tak memiliki penerus.

"Saat ini sudah tidak banyak yang meneruskan jadi bong karena punya pekerjaan lain. Di sini hanya tinggal satu orang, mas Fauzi," lanjut Mugo.

Kades Ngawen, Kecamatan Ngawen, Sofik Ujianto mengatakan daerah Ngupit identik dengan bong supit. Profesi tukang khitan itu ada secara turun-temurun.

"Di zaman saya masih kecil ada nama Mbah Joyo paling terkenal di Sorowaden, Kahuman," terang Sofik kepada detikcom hari ini.

Menurut cerita leluhur, tutur Sofik, profesi tukang khitan di Ngawen dan sekitarnya dirintis oleh Kiai Sorowadi, seorang ulama besar zaman Mataram Islam.

"Jadi Kiai Sorowadi itu di zaman Mataram, tinggal di Sorowaden, Kahuman. Di kampung saya ada Mbah Sorogati, kampungnya Sogaten ini," papar Sofik.

Sofik mengatakan, di masa ayahnya yang ada tiga bong supit pada tahun 1980-1990-an. Yaitu ayahnya, Romdoni dan pamannya, Guritno.

Tapi saat ini, kata Sofik, hanya ada satu juru supit yaitu keponakannya yang bernama Fauzi. Dirinya juga sempat menyunat cukup banyak orang sebelum menjadi Kades.

"Banyak warga yang saya sunat, sekarang sudah pada menikah. Bong supit dari Ngupit pasarannya sampai Lereng Merapi," imbuh Sofik.

(sip/sip)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT