Pahit Getir Mbah Tardi Perajin Miniatur Truk Bertahan di Kala Pandemi

Dian Utoro Aji - detikNews
Sabtu, 08 Jan 2022 12:06 WIB
Perajin miniatur truk di Kudus bertahan di tengah pandemi, Sabtu (8/1/2022).
Perajin miniatur truk di Kudus bertahan di tengah pandemi, Sabtu (8/1/2022). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Mengandalkan keramaian saat festival maupun tradisi musiman, perajin miniatur mobil truk di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah terpukul saat pandemi COVID-19 melarang kerumunan. Beruntung perajin berusia 70 tahun itu tertolong pembeli yang justru langsung mendatangi rumahnya.

Namanya Tardi. Di usia senja, kakek ini masih tekun membuat miniatur truk di rumahnya di Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus.

Miniatur truk buatannya biasanya dijual saat musim tradisi seperti Dandangan di Kudus dan Kupatan di Rembang. Karena pandemi, dia mengaku tidak bisa berjualan selama dua tahun terakhir.

Saat ditemui detikcom, Mbah Tardi tetap membuat miniatur truk. Tampak puluhan miniatur truk tertumpuk di rumahnya.

Mbah Tardi mengatakan sudah enam tahun belakangan menekuni sebagai perajin miniatur truk. Awalnya dia berjualan dan membeli miniatur truk dari Magelang. Namun akhirnya dia memilih membuat miniatur truk sendiri.

"Miniatur truk sudah lama, sudah enam tahun lebih. Awalnya jualan di truk di Demak ambilnya di Magelang, sampai di rumah kemudian bikin sendiri," kata Tardi kepada detikcom, Sabtu (8/1/2022).

Dia mengatakan, miniatur truk buatannya terbuat dari limbah, yakni kayu triplek bekas. Miniatur truk yang dibuat berukuran lebar 20 senti, panjang 64 senti, dan tinggi 25 sentimeter.

"Caranya buatannya dibentuk dulu, dipotong sesuai bentuknya dan ukurannya truk itu, terus dirangkai, terus dicat," ujarnya.

Mbah Tardi mengatakan miniatur truk biasanya dijual saat ada tradisi Dandangan di Kudus dan Kupatan di Rembang. Karena pandemi, dia pun tak bisa berjualan.

"Jualannya di saat musiman saja, (saat) Dandangan sama Kupatan di Rembang," jelasnya.

Meski pandemi, ternyata pembeli justru datang langsung ke rumahnya. Puluhan miniatur truk terjual. Setiap satu truk dipatok harga mulai Rp 120 ribu sampai dengan Rp 130 ribu.

"Itu kemarin libur dua musim karena pandemi COVID, cuman pembeli datang sendiri ke sini, akhirnya terjual," kata Mbah Tardi.

"Harganya Rp 120 ribu sampai Rp 130 ribu. Saya bikin sendiri, nanti ada yang jualan sendiri," jelasnya.

Menurut Mbah Tardi, biasanya saat ada tradisi miniatur truknya bisa laku 60 sampai 80 buah. Dia pun berharap agar kondisi pandemi segera membaik, sehingga dirinya bisa kembali berjualan seperti biasa.

"Setiap musim ya biasanya sampai 80 truk kadang 60 buah tidak unit per musim acara," ungkap Mbah Tardi.

(aku/mbr)