Mardani PKS, Patung Naga Juga Ada di Atap Bangunan Keraton Solo Lho

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 15:34 WIB
Naga di kamandungan Keraton Solo, Jumat (31/12/2021).
Naga di kamandungan Keraton Solo, Jumat (31/12/2021). (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Patung naga di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) disoal oleh politikus Partai Ummat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) karena dinilai tidak menunjukkan budaya Indonesia. Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta angkat bicara membantah argumen itu.

KGPH Puger yang merupakan putra Pakubuwono XII sekaligus adik Pakubuwono XIII menjelaskan bahwa naga sudah lekat dengan budaya Jawa sejak era kerajaan Hindu dan bertahan meski kerajaan Islam berkuasa.

"Dulu di era Hindu, naga ini disebut songgo bumi (menyangga bumi). Tapi setelah Islam, di balik, naga itu perlambang cahaya ilahi. Kilatan petir itu seperti ular naga," kata Puger kepada detikcom, Jumat (31/12/2021).

Menurutnya, simbol naga juga digunakan di berbagai bangunan. Misalnya pada ornamen di dalam Masjid Agung Surakarta, ornamen pada gayor (tempat menggantungkan gong), Kori Kamandungan dan Songgo Buwono.

"Simbol itu di masjid gede (Masjid Agung Surakarta) ada, Songgo Buwono, gayor gamelan ada. Bahkan naga dipakai dalam sengkalan (sandi penulisan tahun dengan kata-kata)," ujar dia.

Sengkalan yang dimaksud, antara lain Naga Muluk Tinitihan Janma yang menggambarkan naga di Songgo Buwono. Sengkalan ini diartikan sebagai 1708 tahun Saka atau 1781 tahun Masehi.

"Dari tahun tersebut bisa kita lihat, itu era Pakubuwono III. Songgo Buwono ini memang dibangun oleh Pakubuwono III," kata dia.

Kemudian ada pula sengkalan Dwi Naga Rasa Tunggal yang menunjukkan 1682 tahun Saka atau 1756. Sengkalan ini dilambangkan dengan dua naga yang ekornya berkaitan. Simbol ini kerap dipakai pada gayor.

"Itu mungkin saja berkaitan dengan paliyan nagari, pembagian kekuasaan antara Surakarta dan Yogyakarta (gamelan juga ikut dibagi)," ujar dia.

Selain itu, naga juga digunakan sebagai simbol dalam dhapur keris. Dhapur keris ini muncul sejak era Majapahit.

"Berawal Brawijaya menyuruh bikin keris dhapur sewu, dibikinlah naga itu, naga menggambarkan seribu, sisiknya mau ngitung susah. Ada dhapur Nonogososro, nogosiluman, nogosapto, nogobongkot, nogorojo," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya Politikus Mustofa Nahrawardaya menyoroti patung naga yang ada di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo, DIY. Lewat akun Twitternya, @TofaTofa_id, Mustofa mempertanyakan pemilihan Naga sebagai wujud patung tersebut.

"Pemandangan baru di Yogyakarta Internasional Airport (YIA) hari ini, Kamis (30/12/2021). Masih gresss...patung naga raksasa di pintu keluar Bandara. Kenapa bukan Patung Garuda atau Patung Pahlawan yg dipasang di sini? Ada temen di Yogyakarta tahu?," tulis Mustofa seperti yang dilihat detikcom, Kamis (30/12).

Sementara itu Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menilai wajar keberadaan patung naga di YIA memicu sorotan, sebab naga tidak dikenal sebagai simbol budaya Indonesia.

"Pertama, wajar ada pertanyaan. Karena naga bukan simbol yang akrab dengan budaya Indonesia," kata Mardani, kepada wartawan, Kamis (30/12).

Mardani mengatakan lebih baik diisi oleh simbol yang memiliki akar budaya Indonesia. Sehingga sekaligus bentuk edukasi budaya lokal.

"Bagus jika ke depannya instalasi seninya yang punya akar budaya. Bisa wayang atau bentuk edukasi lainnya misal Masjid Agung Kudus yang sangat harmoni antara budaya Islam dan lokal," ujarnya.

Simak Video 'Kata Pihak YIA soal Patung Naga Disorot Politikus Partai Ummat':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/rih)