ADVERTISEMENT

Round-Up

Respons Para Pemangku Kewenangan Terkait DaruratKlithih-YogyaTidakAman

Heri Susanto - detikNews
Rabu, 29 Des 2021 08:19 WIB
ilustrasi pembunuhan
Ilustrasi (Foto: detik)
Yogyakarta -

Klithih merajalela! Tagar #SriSultanYogyaDaruratKlithih, #YogyaTidakAman, dan klithih menggema di twitter sejak Selasa (28/12) pagi. Saat bersamaan Pemda DIY tengah menggelar rapat koordinasi penanganan terpadu pelaku klithih.

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY akan menjadi leading sector penanganan klithih ini dengan bekerjasama bersama semua pihak.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan bahwa Pemda DIY sudah memberikan perhatian serius terhadap aksi klithih atau kejahatan jalanan. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait saat ini memiliki program penanganan aksi klithih.

"Jadi mereka yang melakukan klithih ada dua. Yang berurusan dengan hukum maupun yang belum. Yang berurusan dengan hukum, Dinsos (Dinas Sosial) sudah melakukan penanganan," kata Aji, ditemui di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Selasa (28/12/2021).

Aji menyebut penanganan juga dilakukan terhadap yang belum berurusan dengan hukum. Asisten Sekda III yang menjadi koordinator penanganan kenakalan remaja tersebut.

"Ada proses. Ada yang masuk ke lapas. Dikembalikan keluarga. Nah, ini mereka kan dari beberapa OPD yang ada dikoordinasikan Pak Asisten III. Jadi penanganan mereka yang terlibat klithih bisa lebih bagus," jelas Aji.

Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga anggota DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, menyebut pihak Pemda DIY dan polisi telah berkoordinasi untuk menangani klithih.

"Tidak hanya tanggung jawab pemda, tapi juga polisi, KPAI. Hari ini (28/12) berkoordinasi," kata Hemas ditemui wartawan di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Selasa (28/12).

"Karena ini harus berkoordinasi (lintas sektoral). Klithih atau persoalan anak, saya berharap mereka bisa diberikan tempat pendidikan (khusus)," ujar Hemas.

Pendidikan ini, lanjutnya, bisa dilakukan di sebuah tempat dan tidak cukup hanya satu atau dua bulan saja. Dari pendidikan ini salah satunya bisa untuk mengingatkan orang tua bahwa anaknya telah terlibat dalam klithih.

"Selain intervensi hukum, mereka ditempatkan ke pendidikan selanjutnya. Tidak cukup (pendidikan khusus) ini satu, dua bulan," jelasnya.

"Ditempatkan di satu tempat, mengingatkan orang tua," ujarnya.

Selengkapnya di halaman berikutnya...

Simak Video 'Kata Lembaga Perlindungan Anak soal Remaja Yogya Jadi Pelaku Klithih':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT