Unik! Pohon Natal 7 Meter di Klaten Dibuat dari Ratusan Sapu Lidi

Achmad Syauqi - detikNews
Sabtu, 18 Des 2021 15:43 WIB
Pohon natal di Gereja Santa Maria Bunda Kristus, Kecamatan Wedi, Klaten, terbuat dari sapu lidi, Sabtu (18/12/2021).
Pohon natal di Gereja Santa Maria Bunda Kristus, Kecamatan Wedi, Klaten, terbuat dari sapu lidi, Sabtu (18/12/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten - Pohon natal unik dibuat di Gereja Santa Maria Bunda Kristus, Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Pohon natal tersebut terbuat dari ratusan sapu lidi yang dirangkai.

"Ini total sekitar 750-an sapu lidi, plus minusnya. Tapi saya yakin plus," kata pelaksana pembuatan pohon natal, Ignatius Yunanto, kepada wartawan, Sabtu (18/12/2021).

Menurut Yunanto, satu sapu lidi tersebut terdiri dari 100-200 batang lidi. Lingkar bawah pohon ada 65 rangkaian sapu.

"Per sapu rata-rata 100-200 batang lidi. Lingkar paling bawah itu ada 65 sapu yang digunakan," jelasnya.

Tim Kerja Kreatif Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Antonius Supriyadi, menambahkan dengan ide sapu lidi itu diharapkan ada semangat untuk bangkit dari pandemi. Sapu sebagai simbol kekompakan dan semangat.

"Kami buat pohon natal dari sapu lidi ini sebagai simbol kekompakan dan semangat untuk meneruskan hidup, sebab hidup ini harus berlanjut. Maka umat dan lingkungan mengirimkan sapu ini," ucap Supriyadi.

Supriyadi mengungkap pohon natal tersebut tingginya sekitar 7 meter. Diameter paling bawah 2,5 meter.

"Tinggi 7 meter dari tanah, diameter bawah 2,5 meter. Ini ide dadakan tapi karena umat bersemangat mengirimkan sapu, bahkan ada yang membawa 100 sapu," katanya.

Pohon natal di Gereja Santa Maria Bunda Kristus, Kecamatan Wedi, Klaten, terbuat dari sapu lidi, Sabtu (18/12/2021).Pohon natal di Gereja Santa Maria Bunda Kristus, Kecamatan Wedi, Klaten, terbuat dari sapu lidi, Sabtu (18/12/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Sementara itu Pastor Kepala Paroki Santa Maria Bunda Kristus, Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, menjelaskan pohon natal dibuat dengan sapu itu punya makna. Yaitu dengan bersatu seperti sapu lidi, semua menjadi indah dan lebih baik.

"Dengan mengambil sapu lidi filosofinya dengan bersatu, bisa membuat sesuatu itu indah dan menjadi lebih baik. Sapu itu untuk membersihkan tapi kalau tidak diikat juga tidak efektif," kata Romo Aloysius.

Menurutnya, dengan simbol sapu lidi itu umat ingin kembali membangun kehidupan atau kesejahteraan sosial. Kerja sama itu penting untuk mengatasi dampak pandemi.

"Tanpa kerja sama usaha pemulihan akan terhambat atau mungkin tidak berhasil. Sapu lidi itu kemarin ditargetkan 300-500 sapu, yang penting bukan jumlahnya tapi keterlibatan umat," jelasnya.

Hal itu sesuai tema natal tahun ini yakni membangun persaudaraan. Apalagi di tengah pandemi yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini.

"Di tengah pandemi yang sudah dua tahun ini, saat ini sudah landai maka kita ingin membangunkan kembali iman dan persaudaraan," ucapnya.

Simak juga 'Momen Pohon Natal Vatikan Menyala di Lapangan Santo Petrus':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/rih)