ADVERTISEMENT

Mengulik Lirik Lagu Horor 'Lingsir Wengi' yang Disebut Karya Sunan Kalijaga

Ari Purnomo - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 16:48 WIB
The girls are crying. Young ladies in ancient dresses walking through the woods in search of a victim. Foggy, spooky forest. Photoshoot in the style of horror. Mystical photo. Fashionable tinted.Creative color.
Ilsutrasi (Foto: Dok. iStock)
Solo -

Dalam khasanah lagu berbahasa Jawa, ada sebuah lagu sangat terkenal berjudul 'Lingsir Wengi' karya Sukap Jiman. Namun ada juga lagu berjudul serupa yang juga terkenal di kalangan masyarakat sebagai lagu bernuansa horor. Lagu itu disebut karya Sunan Kalijaga. Benarkah?

Lagu Jawa berjudul 'Lingsir Wengi' menjadi salah satu tembang yang begitu populer. Alunan musik dangdut Jawa yang mendayu-dayu mengajak pendengarnya meresapi setiap syair yang dinyanyikan.

Setidaknya ada dua versi lagu berjudul 'Lingsir Wengi', yakni ciptaan Sukap Jiman yang menceritakan kegalauan hati seseorang di tengah malam yang sedang dirundung kerinduan terhadap kekasihnya.

Berbeda dengan lagu karya Sukap, 'Lingsir Wengi' yang satunya bernuansa mistis dengan isi syair yang sangat menyeramkan.

Ini tidak terlepas dari dipakainya lagu tersebut di film berjudul 'Kuntilanak'. Syair yang menyebut setan dan juga jin itu dianggap mempunyai kesan seram.

Dosen Karawitan ISI Solo, Danis Sugiyanto, sepakat isi lagu tersebut bisa diartikan pula adanya gambaran ilmu hitam.

"Itu seperti sedang mengirim teluh/santet/guna-guna di larut malam. Jelas beda sekali message (pesan) antara lagu 'Lingsir Wengi' Mbah Sukap dengan lagu itu," ujarnya kepada detikcom, Selasa (23/11/2021).

Lirik lagu 'Lingsir Wengi' versi horor ini adalah:

Lingsir wengi sliramu
tumeking sirna
aja tangi nggonmu guling
awas aja ngetara
aku lagi bang winga-winga
jin setan kang takutusi
dadya sebarang
dwaja lelayu sebi

(Larut malam dirimu
akan mati
takkan bangun (lagi) dari tidurmu
awas jangan menampakkan diri
aku sedang marah besar
jin setan yang aku perintah
jadilah (berubah ujud) apapun
sobeklah seperti kain)

Cara menyanyikan lagu ini memang tak seperti lagu masa kini, namun lebih mirip dilantunkan seperti tembang Jawa tradisional jenis macapat.

Sedangkan syairnya memang terkesan mencampuradukkan bahasa Jawa baru dengan bahasa Jawa kawi yang dipakai di suluk-suluk pedalangan.

Selanjutnya: bukan karya Sunan Kalijaga...



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT