Pura Mangkunegaran Tegaskan Pembahasan Suksesi Dikoordinasi Permaisuri

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Sabtu, 20 Nov 2021 14:20 WIB
Peringatan 100 hari wafatnya Mangkunegara IX
Peringatan 100 hari wafatnya Mangkunegara IX, Solo, Kamis (18/11/2021). (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Pembahasan suksesi kekuasaan di Pura Mangkunegaran segera dilakukan oleh keluarga. Pihak Mangkunegaran menegaskan bahwa permaisuri, Gusti Kanjeng Putri Prisca Marina, bakal mengoordinasikan pembahasan tersebut hingga menentukan satu nama.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wedhana Satrio Pura Mangkunegaran, Lilik Priarso Tirtodiningrat. Menurutnya, permaisuri berperan sentral karena masih dalam kondisi sehat.

"Nanti yang berhak menentukan Gusti Putri melalui pembicaraan keluarga inti. Ada juga sedherek dalem (kerabat dekat), namun sebatas memberi saran. Keputusan di tangan Gusti Putri karena masih sugeng (sehat)," kata Lilik saat dihubungi wartawan, Sabtu (20/11/2021).

Dia menjelaskan, keluarga inti yang dimaksud adalah permaisuri bersama empat orang putra Mangkunegara IX, yakni GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara, GRA Putri Agung Suniwati, GPH Bhre Cakrahutomo Wirasudjiwo dan GRA Ancillasura Sudjiwo.

Lilik tidak bisa memastikan kapan pembahasan akan selesai dilakukan. Namun Pura Mangkunegaran akan mengumumkan secara resmi ketika sudah ditentukan satu nama.

"Waktunya terserah beliau Gusti Putri kapan selesai membahas. Nanti kami dari kantor memberitahu, secara resmi dari Pura Mangkunegaran. Jadi nggak ada dari perwakilan ini itu, satu suara dari Pura Mangkunegaran," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, nama penerus Mangkunegara IX mengerucut pada GPH Bhre Cakrahutomo Wirasudjiwo. Lilik mengatakan putra permaisuri seharusnya lebih diutamakan.

"Kita itu penerus dari Mataram, jadi harus patriliniear, jalur laki-laki karena sebagai imam. Dan kalau ada putra laki-laki dari prameswari ya dari prameswari," kata Lilik saat dijumpai di Pura Mangkunegaran, Jumat (19/11).

Dia menampik pernyataan orang yang menyebut Mangkunegaran tidak memiliki aturan baku dalam memilih sosok penguasa. Tradisi terkait suksesi menurutnya dapat dibaca dalam sebuah kitab.

"Orang ngomong seenaknya sendiri katanya kok Mangkunegaran tidak ada aturan baku, itu bukan orang Jawa. Orang Jawa punya paugeran (aturan)," ujar dia.

"Dan kalau kurang jelas lagi kenapa harus putra prameswari. Kalau bisa mengupas ada Serat Paliatmo di perpustakaan ada, isinya bagaimana monggo (silakan) bisa dibaca sendiri," imbuhnya.

(bai/rih)