Mahasiswa UNS Demo Rektorat Tuntut Bubarkan Menwa

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Senin, 01 Nov 2021 15:36 WIB
Demo tuntut pembubaran Menwa UNS, Solo, Senin (1/11/2021).
Demo mahasiswa tuntut bubarkan Menwa UNS Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Buntut dari tewasnya seorang peserta diksar, Gilang Endi Saputra (21), sejumlah mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di depan Rektorat Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, hari ini. Mereka menuntut transparansi hingga pembubaran Menwa UNS.

Aksi dimulai dengan berkumpul di dekat Markas Menwa UNS, Senin (1/11/2021) siang. Kemudian massa berjalan menuju depan Rektorat UNS dan memulai orasi sekitar pukul 14.30 WIB.

Mereka kompak mengenakan pakaian serba hitam. Massa juga membawa sejumlah poster yang antara lain bertuliskan 'Mereka Bunuh Gilang', 'Menwa Berhutang Nyawa' dan 'Justice for GE'.

"Bubarkan Menwa! Bubarkan Menwa!" kata massa sambil berteriak.

Salah satu orator menyebut pihak rektorat masih terkesan menutup-nutupi kasus tersebut. Massa mempertanyakan kelanjutan hasil autopsi yang sebelumnya sudah diungkap kepolisian.

Orator juga menyebut istilah 'kipas asmara' dan 'ranting jatuh' yang merupakan sanksi bagi peserta Diksar Menwa UNS. Kipas asmara ialah tamparan, sedangkan ranting jatuh ialah pukulan menggunakan popor senjata.

Salah seorang mahasiswa UNS yang menjadi juru bicara aksi, Elang Muhammad Fikri, mengatakan mahasiswa meminta penjelasan lengkap terkait kronologi kematian Gilang. Massa pun meninta pihak rektorat menemui mereka.

"Kami hanya meminta transparansi dari pihak kampus, karena selama ini masih banyak yang belum jelas," ujar Elang.

Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa UNS, Gilang Endi Saputra (21) tewas dalam Diksar Menwa UNS, Minggu (24/10). Dari hasil autopsi jenazah Gilang, polisi menemukan adanya bukti kekerasan. Terakhir Direskrimum Polda Jateng Kombes Djuhandhani Rahardjo menyebut ada beberapa bekas luka di kepala korban.

"Luka-luka di bagian mana ini? Kasat yang lebih tahu visum luar dan dalam. Ada berapa bekas di kepala, di dalam tubuh korban, tapi ahli yang akan berbicara, apakah itu yang menyebabkan kematian atau tidak?" ujar Djuhandhani kepada waratwan di Polresta Solo, hari ini.

(sip/ams)