Bupati Blora Larang Aktivitas Ilegal di Area Diduga Lingkungan Purba Kapuan

Febrian Chandra - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 15:53 WIB
Temuan fosil tulang banteng purba di Kapuan, Blora
Temuan fosil tulang banteng purba di Kapuan, Blora. (Foto: Febrian Chandra/detikcom)
Blora -

Banyaknya temuan fosil di Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, mengindikasikan kawasan tersebut diduga lingkungan purba. Pemkab Blora sedang melakukan sejumlah kajian itu melakukan proteksi. Untuk sementara, Bupati Blora melarang adanya aktivitas ilegal di kawasan tersebut.

"Dari dinas biar koordinasi dulu dengan pihak desa. Untuk sementara agar diberikan imbauan agar tidak terjadi aktivitas ilegal atau yang berpotensi merusak kawasan itu. Entah bentuknya diblok dulu selama masih dilakukan riset lapangan," kata Bupati Blora Arif Rohman, Senin (25/10/2021).

Kawasan yang sering ditemukan fosil tersebut terletak di pinggir aliran Bengawan Solo. Sebelumnya, kawasan tersebut merupakan lokasi warga melakukan tambang pasir liar dan pencarian batu akik.

Arif menjelaskan, temuan-temuan fosil dari Kapuan sementara ini masih disimpan di rumah artefak Blora di kawasan GOR Blora. Namun dalam waktu dekat rumah artefak akan dipindah di gedung yang lebih layak.

Sedangkan terkait penanganan kawasan di Desa Kapuan dijadikan kawasan cagar budaya, masih menunggu hasil kajian dari tim dan dinas terkait. "Kita tunggu hasilnya dulu. Baru kita melangkah, hasil kajian seperti apa," terangnya.

Sementara itu, Kasi Kesejarahan dan Kepurbakalaan Dinporabudpar Eka Wahyu Hidayat mengatakan, Pemkab Blora telah mempunyai tim ahli cagar budaya (TACB) yang salah satu tugasnya untuk melakukan riset dan merekomendasikan kepada Bupati Blora agar suatu wilayah bisa ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya.

Eka menerangkan, jika merujuk ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, kawasan Kapuan telah dilakukan delineasi yang ke depan rencananya untuk ditetapkan menjadi lokasi cagar budaya.

"Arah ke sana sudah ada, masih kita kaji dan lakukan riset di lapangan untuk menuju ke sana (kawasan cagar budaya)," terangnya.

"Ketika sudah ditetapkan maka lokasi tersebut telah dilindungi oleh undang-undang. Dan segala bentuk aktivitas ilegal ataupun yang berpotensi merusaknya tidak diperbolehkan," tambahnya.

Ditemukan Jejak Peninggalan Manusia Purba

Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Haris Rahma Rendra, menyebut pihaknya telah melakukan ekskavasi sejak 2019 lalu di Desa Kapuan. Dari hasil risetnya itu ditemukan batuan endapan teras purba.

"Yang kita konsentrasukan sampai saat ini adalah endapan teras purba itu. Di Kapuan diduga telah ada jejak-jejak kehidupan Purba. Teras itukan sungai ya. Kita masih melakukan penelitian setidaknya kita telah memperoleh tinggalan budaya manusia. Yang diduga dulu digunakan oleh manusia," terang Haris.

Dia menerangkan ditemukan sejumlah produk budaya manusia dan tulang belulang dari binatang purba.

"Temuan terkahir itu fosil tulang banteng purba," jelasnya.

Sebelumnya, di kawasan Desa Kapuan, telah beberapa kali ditemukan fosil purbakala. Terakhir ditemukan adalah fosil banteng purba. Sedangkan merujuk penelitian dari BPSMP Sangiran, kawasan tersebut diduga merupakan lingkungan purba.

(mbr/rih)