Cerita Kepala BMKG Stasiun Meterologi Bandara di Papua Terpaksa Dijaga TNI

Heri Susanto - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 13:51 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kulon Progo, Kamis (21/10/2021).
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kulon Progo, Kamis (21/10/2021). (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom)
Yogyakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengalami kendala untuk menjaga semua bandara di Indonesia. Jumlah bandara tiap tahun terus bertambah, sementara penambahan SDM BMKG disebut tak bisa mengimbangi.

Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati menyebut Stasiun Meterologi di Indonesia mayoritas tak dijaga petugas BMKG. Namun BMKG tetap menyediakan peralatan untuk memprediksi cuaca terkait dengan keperluan landing, take off, dan jalur penerbangan.

"Di Papua ada sekitar 15 bandara, yang terpaksa Stasiun Meterologi dijaga petugas dari Paskhas AU, Avsec, dan petugas lain," kata Dwikorita saat membuka Sekolah Lapang Penerbangan Meterologi di Yogyakarta, Kamis (22/10/2021).

Guru Besar UGM ini menjelaskan dengan keterbatasan tersebut, pihaknya memilih dengan memberikan pelatihan kepada petugas jaga. Meski, mereka bukan personel dari BMKG.

"Jadi secara prediksi tidak ada masalah. Karena memang alatnya ada," jelasnya.

Dengan kondisi geografis di Papua yang pegunungan, lanjut Dwikorita, keberadaan Stasiun Meterologi ini sangat penting. Terlebih, Papua sangat bergantung pada alat transportasi udara.

"Makanya kami rutin update berikan pelatihan kepada petugas di sana agar bisa memberikan data akurat dan cepat. Karena cuaca saat ini sering berubah. Perhitungannya percetakan," imbuhnya.

Dia mengatakan kecelakaan pesawat di Papua memang cukup sering terjadi. Menurutnya hal tersebut tak terlepas dari perubahan cuaca yang cepat serta kemampuan membaca data prediksi pilot.

"Data yang kita sajikan juga harus bisa dibaca. Makanya, pelatihan ini semua pihak tidak hanya petugas jaga Stasiun Meterologi. Yang membaca juga diberikan pelatihan," katanya.

Untuk prediksi cuaca BMKG, kata Dwikorita, berlaku sangat detail. Mulai dari arah angin saat pesawat take off, awan cumulosnimbus yang harus dihindari pesawat selama terbang, dan kembali landing.

"Ini menjadi tantangan bagi kami untuk bisa menyiapkan prediksi 100 persen. Karena memang peralatan ada di bandara itu," jelasnya.

(sip/mbr)