Terima 62 Aduan Pinjol Ilegal, OJK Tegal: Masyarakat Harus Lebih Cermat!

Imam Suripto - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 16:47 WIB
Kantor OJK Tegal, Jawa Tengah, Kamis (21/10/2021).
Kantor OJK Tegal, Jawa Tengah, Kamis (21/10/2021). (Foto: Imam Suripto/detikcom)
Kota Tegal -

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal, Jawa Tengah, telah menerima 62 aduan terkait pinjaman online (pinjol) ilegal. Pengaduan masyarakat itu diterima selama periode Januari sampai September 2021.

"Pengaduan mengenai pinjol ilegal itu selama periode bulan Januari hingga September 2021 sebanyak 62 pengaduan," kata Kepala OJK Tegal Ludy Arliyanto di kantornya, Kamis (21/10/2021).

Pengaduan dari masyarakat itu dilayangkan melalui WhatsApp dan telepon kantor. Pengaduan didominasi terkait persoalan legalitas pinjol, keluhan tindakan penagihan pihak pinjol dan soal keberatan pembayaran. Menurut Ludy, kebanyakan dari mereka tidak mau menyebut identitasnya.

"Saat dikonfirmasi ulang, para pengadu mayoritas tidak mau menyebut identitas diri. Mungkin karena privasi, malu," tutur Ludy.

Maraknya masyarakat yang terjerat pinjol, Ludy berharap agar masyarakat lebih berhati-hati. Dia membeberkan tips sebelum melakukan pinjaman online.

Apabila akan melakukan pinjaman calon kreditur harus memastikan pinjol yang legal, artinya yang terdaftar di OJK.

"Harus pastikan pinjol itu legal. Hal ini penting karena biar kita bisa memastikan bahwa masyarakat yang pinjam di pinjol akan kita lindungi, akan kita proteksi sesuai dengan ketentuan pelayanan yang yang harus diberikan oleh pinjol," ujar Ludy.

Di sisi lain, Ludy meminta masyarakat untuk lebih cerdas dan cermat. Maksudnya, jika akan meminjam uang harus sesuai dengan kebutuhan.

"Masyarakat (harus) lebih cerdas dan cermat," ujarnya.

"Kalau mengikuti keinginan tidak ada habisnya. Pastikan kalau pinjam sudah ada gambaran nanti bayarnya pakai apa, jangan mengikuti air mengalir karena kalau mampet bingung bayarnya," katanya.

Ludy juga mengimbau uang dari pinjaman bukan untuk kepentingan konsumtif, tapi untuk produktif atau untuk usaha. Sehingga ada tambahan penghasilan yang bisa dipakai buat bayar cicilan dan bunga.

Masyarakat juga harus paham soal bagaimana hitungan biayanya, hitungan bunga, jangka waktunya, denda dan risiko-risiko lain yang terkait pinjol. Ludy menyebut, pinjol sifatnya pinjaman cepat tanpa jaminan yang tentu ukuran bunganya akan lebih besar dan mahal. Jadi harus pasti diperhitungkan dengan cermat.

"Kalau sudah ngerti mahal dipakai buat yang tidak produktif, buat konsumtif, buat senang-senang ujungnya akan menjadi masalah," pungkas Ludy.

(rih/sip)