La Nina Mulai Landa Indonesia, BMKG Ungkap Dampak Positifnya

Jalu Rahman Dewantara - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 15:46 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kulon Progo, Kamis (21/10/2021).
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kulon Progo, Kamis (21/10/2021). (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom)
Kulon Progo -

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena La Nina bakal melanda Indonesia terhitung sejak bulan Oktober 2021 hingga Februari 2022. Fenomena ini disebut tidak selalu membawa dampak buruk, ada pula efek positif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati usai mengisi sekolah lapang iklim tematik di Kapanewon Sentolo, Kulon Progo, Kamis (21/10/2021). Ia menyebut bahwa fenomena alam yang terjadi karena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal sehingga menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi itu bisa bermanfaat bagi masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan sulit air.

Menurutnya dengan tingginya curah hujan bersamaan dengan kehadiran La Nina dapat membantu pasokan air masyarakat ihwal khusus untuk dunia pertanian.

"Kami sampaikan bahwa La Nina lemah yang bergerak ke moderat atau menengah saat ini sedang dimulai. Hal ini akan berdampak pada peningkatan curah hujan, dan di wilayah DIY dapat mencapai 60 persen prediksinya. Padahal tadi disampaikan Kulon Progo ini kekurangan air. Karena kurang, maka tata kelolanya diatur, saat area (pertanian) tidak butuh air, disetop irigasinya," ujar Dwi.

"Nah La Nina ini bisa diambil manfaatnya kalau kita siapkan tandon-tandon air untuk menampung kelebihan air hujan, untuk memanen, tentunya bakal membantu pasokan air yang kurang," sambungnya.

Karena itu pihaknya meminta seluruh masyarakat untuk bisa memonitor perkembangan cuaca dan iklim selama fenomena La Nina berlangsung lewat sumber-sumber valid dari BMKG. Dengan mengetahui kondisi cuaca, masyarakat dapat mengatur tata kelola irigasi pertanian guna menentukan perlu tidaknya menyetop saluran air saat terjadi La Nina.

"Ini untuk menentukan mana yang harus distop irigasinya karena akan hujan lebat, dan mana yang harus dibuka irigasinya. Kemudian ada peringatan dini apabila terjadi cuaca ekstrem, 3 jam sampai 3 hari sebelumnya. Poin ini yang perlu diketahui petani agar mengelola air agar tidak berlebihan dan menjadi banjir atau longsor," jelasnya.

Dwi menerangkan untuk saat ini fenomena La Nina yang sudah mulai masuk di Indonesia masih tergolong lemah. Diperkirakan, akan semakin menguat di akhir tahun dan kian meningkat bersamaan puncak musim hujan itu di Januari-Februari 2022.

"Sehingga perlu ada kewaspadaan terhadap potensi bencana yang ditimbulkan seperti banjir dan tanah longsor. Namun untuk wilayah yang kekurangan air justru harus disiapkan untuk memenuhi kekurangan air. Jadi tata kelola airnya harus ditata," ucapnya.

Simak video 'Sebagian Wilayah Indonesia Cerah Berawan-Hujan':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/sip)