Sulap Selokan Jadi Kolam Ikan, Warga Karanganyar Raup Cuan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 21:18 WIB
Selokan di Colomadu, Karanganyar yang kini disulap jadi kolam ikan
Selokan di Colomadu, Karanganyar yang kini disulap jadi kolam ikan (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Karanganyar -

Pemandangan menarik terlihat di sepanjang jalan kampung kawasan Tugu Boto, Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Tampak ribuan ikan berwarna merah bermunculan di permukaan kolam yang berada di tepi jalan.

Jangan salah, kolam-kolam itu ternyata adalah selokan. Selokan yang dulunya bau dan kotor, kini menjadi tempat budi daya ikan nila yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Gagasan pertama sebetulnya muncul karena banyaknya sampah di selokan tersebut. Warga berinisiatif menyetop pembuangan sampah dengan memelihara ikan di selokan tersebut.

"Awalnya sebetulnya warga ingin menangani masalah sampah, karena dulu sampah rumah tangga sampai bangkai hewan itu masuk ke sini, kita lama-lama kesal juga, lalu muncul ide budidaya ikan," kata Danang, salah satu pembudidaya ikan selokan saat dijumpai di kawasan Tugu Boto, Karanganyar, Sabtu (16/10/2021).

Rupanya ide tersebut disambut baik warga setempat. Perlahan-lahan, warga setempat sudah tak lagi membuang sampah di saluran air.

"Lama-kelamaan dengan adanya ikan di selokan ini, orang juga secara sendirinya tidak membuang sampah di saluran air. Tapi dalam perjalanannya memang pernah ada yang tidak suka dengan budi daya ikan ini, sampai

Budi daya ikan di selokan ini berawal pada tahun 2008, dengan melakukan percobaan memelihara ikan di kolam milik kas Desa Klodran. Kini selokan sepanjang sekitar 1 kilometer itu disulap menjadi kolam ikan nila.

"Dulu dimulai dari satu paguyuban, sekarang ada empat paguyuban, sekitar 30 orang yang ikut budi daya ikan," ujarnya.

Perawatan mudah

Mereka sempat memelihara berbagai jenis ikan, seperti nila, lele, hingga gurame. Namun akhirnya nila dipilih karena dirasa paling cocok dibudidayakan di selokan.

Ketua Paguyuban Mina Sari Mulyo, Bambang Agus Warsito, menyebut nila lebih tahan di air mengalir. Biaya pemeliharaannya pun dirasa lebih murah.

"Kalau lele itu biar bagus harus ditambah pakan lain, bukan hanya pelet, tapi lele juga merusak lahan. Makanya kita lebih suka nila, pakannya cuma pelet," ujar Bambang.

Selengkapnya di halaman berikut...