Round-Up

7 Fakta Tak Terpuji Pendaki Panjat-Joget di Atas Tugu Puncak Merbabu

Ragil Ajiyanto - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 08:38 WIB

6. Dinilai tak menghargai jerih payah membangunnya

Johan Setiawan mengungkapkan, untuk membangun tugu di puncak Gunung Merbabu itu tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras. Pasalnya, para pekerja harus membawa material bangunan dari bawah, seperti semen, batu termasuk air.

Bahkan, pihak pelaksana sempat muncul ide membawa material-material bangunan ke puncak Gunung Merbabu menggunakan helikopter. Namun akhirnya tetap dibawa melalui jalur darat atau pendakian.

Termasuk dalam perbaikan saat pendakian ditutup karena PPKM pandemi COVID-19 kemarin. Kondisi tugu puncak Triangulasi saat itu dalam kondisi miring dan membahayakan.

"Kita cor, kita bawa material semen, batu, air dari bawah ke atas. Dibantu masyarakat, relawan untuk melakukan perbaikan dan sekarang sudah bagus, harapannya bisa awet, memberi sebagai tanda sudah sampai puncak," kata Johan.

Sayangnya, masih ditemukan oknum pendaki yang tidak mengindahkan aturan. Menurutnya, kegiatan menaiki tugu penanda puncak tak hanya menyalahi etika pendakian. Namun, juga berpotensi menimbulkan kerusakan dan membahayakan diri sendiri.

7. Pendakian dibuka 5 Oktober, video viral 6 Oktober 2021

Belum diketahui, apakah video dan foto yang viral tersebut merupakan gambar baru atau lama.

Gunung Merbabu dibuka kembali di masa PPKM sejak 5 Oktober 2021. Namun baru satu jalur yang dibuka secara resmi yaitu jalur Thekelan, Kabupaten Semarang. Sedangkan video tersebut viral pada tanggal 6 Oktober 2021 atau satu hari setelah dibuka.

Johan mengatakan, pihaknya kini masih melakukan penyelidikan, siapa pendaki tersebut dan mereka naik dari mana.Apakah mereka merupakan pendaki yang naik melalui jalur Thekelan, Kabupaten Semarang pada tanggal 5 Oktober 2021 atau bukan. Atau pendaki yang naik melalui jalur tak resmi atau jalur yang belum dibuka.

Johan menyampaikan bahwa Gunung Merbabu memiliki landasan hukum yang jelas. Karena merupakan daerah konservasi yang dilindungi dan dituangkan dalam Undang-undang (UU) RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati Ekosistemnya.


(mbr/mbr)