Jangan Dipakai Sembarangan! Ini Sederet Batik Larangan Keraton Yogya

Heri Susanto - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 12:30 WIB
Pagelaran Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta. (Foto: dok detikcom)

Kemudian, motif kawung yang hanya diperbolehkan untuk sentana ndalem atau keluarga kerajaan. Bentuknya berupa pola geometris dengan empat bentuk elips yang mengelilingi satu pusat.Bagan seperti ini dikenal dalam budaya Jawa sebagai keblat papat lima pancer. Ini dimaknai sebagai empat sumber tenaga alam atau empat penjuru mata angin.

"Pendapat lain mengatakan kawung menggambarkan bunga lotus atau teratai yang sedang mekar. Bunga teratai sendiri digunakan sebagai lambang kesucian. Motif kawung juga sering diartikan sebagai biji kawung atau kolang-kaling, buah pohon enau atau aren yang sangat bermanfaat bagi manusia. Untuk itu pemakai motif ini diharapkan dapat bermanfaat bagi lingkungannya," jelasnya.

Dalam acara pembukuan Seminar Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2021 yang disiarkan secara daring beberapa hari lalu, GKR Bendara mengingatkan agar tak ada lagi yang menempatkan batik secara sembarangan tanpa memahami filosofinya.

"Sebagai sebuah masterpiece art, maka selayaknya juga dijunjung, dihargai, juga diberlakukan seperti masterpiece art lainnya," kata Bendara.

"Jadi jangan lagi ada (batik) motif kawung atau parang yang diletakkan di lantai, ataupun menjadi dekorasi dinding kamar mandi, atau tempat-tempat yang tidak layak lainnya," lanjutnya.


(sip/sip)