Daya Beli Ikan Turun, Nelayan di Gunungkidul Minta Objek Wisata Dibuka

Pradito Rida Pertana - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 20:21 WIB
Ilustrasi. Nelayan di Pantai Baron, Gunungkidul, sedang memperbaiki peralatan melaut.
Ilustrasi. Nelayan di Pantai Baron, Gunungkidul, sedang memperbaiki peralatan melaut. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Gunungkidul -

Penutupan sementara objek wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, DIY, berdampak pada daya beli ikan hasil tangkapan nelayan. Para nelayan minta objek wisata pantai segera dibuka agar daya beli ikan meningkat.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Gunungkidul Rujimanto mengatakan bahwa harga tangkapan ikan mulai menurun drastis saat DIY menerapkan PPKM level 4.

"Penurunan harga jual ikan itu rata-rata Rp 5.000 per kilogram. Penurunan harga itu karena pemilik rumah makan masih sepi pengunjung, bahkan ada juga yang tidak bisa beli ikan karena minim pemasukan," kata Rujimanto saat dihubungi wartawan, Jumat (1/10/2021).

Kendati demikian, para nelayan tetap melaut. Mengingat nelayan membutuhkan penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

"Padahal selama ini lebih dari 500 usaha restoran dan warung di sepanjang pantai Gunungkidul selalu rutin membeli hasil tangkapan nelayan," lanjut Rujimanto.

Menyoal aturan PPKM yang memperbolehkan rumah makan beroperasi secara terbatas, Rujimanto mengaku tidak mempengaruhi daya beli ikan hasil tangkapan nelayan. Pasalnya wisatawan tetap tidak bisa masuk ke kawasan pantai sehingga pemilik rumah makan memilih menutup tempat usahanya.

"Apalagi selama PPKM ini juga belum ada bantuan. Karena itu kami meminta pemerintah pusat dan DIY segera mengizinkan kawasan pantai selatan dibuka resmi untuk wisatawan agar daya beli ikan juga meningkat," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Muhammad Zaini Hanafi menyebut bahwa pihaknya selalu berusaha mendorong kesejahteraan nelayan. Bahkan, pihaknya sudah menggulirkan beberapa program.

"Upaya peningkatan kesejahteraan tersebut di antaranya melalui program asuransi nelayan, kelembagaan agar nelayan punya akses serta daya tawar lebih kuat, berbagai fasilitas pendanaan, juga pelatihan diversifikasi usaha," kata Zaini dalam Dialog Produktif Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Kamis (30/9).

Dia menegaskan bahwa setiap bantuan yang diberikan tersebut berdasarkan konsep bottom up atau dari bawah ke atas. Dengan konsep tersebut, dia mengaku agar lebih tepat sasaran.

"Sumber pendanaan untuk dukungan tersebut dapat berasal dari pendanaan gotong royong serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang 'dikembalikan' kepada nelayan. Jadi nelayan yang besar dapat berbagi, membantu, memberikan subsidi bagi nelayan-nelayan kecil," ujarnya.

Selain itu, untuk mengubah pola pikir nelayan dalam hal pengelolaan keuangan pihaknya mencoba membiasakan para nelayan untuk menabung. Mengingat penghasilan nelayan sebetulnya tidak kecil, namun terkendala pengelolaan keuangannya sehingga terlihat kecil.

"Sehingga kami mengatasinya melalui program Kartu Kusuka (Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan) yang juga berfungsi sebagai kartu ATM," ucapnya.

(rih/mbr)