Apa Arti Ucapan 'Tweede Mapanget' dari Nasution di Diorama yang Dihilangkan?

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 11:03 WIB
Rombongan mahasiswa mengunjungi ruang diorama patung Soeharto, Sarwo Edhie Wibowo dan AH Nasution di Museum Dharma Bakti, Makostrad, Jakpus. Tampak seorang prajurit TNI memandu rombongan.
Diorama di Makostrad yang kini dihilangkan (Foto: dok Kostrad)
Yogyakarta -

Patung Soeharto, AH Nasution dan Sarwo Edhie dalam diorama Museum Dharma Bhakti, Markas Kostrad, dihilangkan. Diorama itu menggambarkan saat Soeharto memberi perintah Sarwo Edhie untuk mengambil alih Pangkalan Halim. Dalam film 'Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI' ada kata 'tweede Mapanget' dalam ucapan AH Nasution dalam adegan itu. Apa artinya?

Pakar telematika, Roy Suryo, kepada detikcom memaparkan diorama di Makostrad yang dihilangkan itu adalah adegan saat Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhi menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menerima perintah pengambilalihan Pangkalan Halim yang saat itu menjadi markas gerakan G30S.

Adegan tersebut juga dimunculkan dalam film 'Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI' yang diproduksi Perum Produksi Film Negara (PPFN). Film semi dokumenter berdurasi 4 jam 32 menit 45 detik itu skenario dan penggarapannya ditangani oleh sineas kenamaan (alm) Arifin C Noer.

Dalam adegan tersebut menampilkan tiga tokoh yang Mayjen Soeharto (diperankan Amoroso Katamsi), Jenderal AH Nasution (diperankan Rudy Sukma) dan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo (diperankan Didi Sadikin).

Adegan itu dimulai dengan scene Soeharto nampak mondar-mandir di ruangan, sedangkan AH Nasution duduk di kursi memegang tongkat dengan kaki kiri diperban diletakkan di atas meja karena mengalami luka saat lolos dari upaya penculikan G30S pada 1 Oktober dinihari.

Scene selanjutnya masih di lokasi yang sama adalah masuknya Sarwo Edhie yang menghadap untuk meminta kejelasan perihal rencana pengambilalihan Pangkalan Halim Perdanakusumah yang saat itu dikuasai kelompok G30S. Adegan sebelumnya memang digambarkan ketika Sarwo gelisah di luar ruangan Pangkostrad menunggu komando untuk menyerbu Pangkalan Halim.

Dalam film sepanjang 4 jam 32 menit 45 detik itu, adegan itu tergambar ada jam ketiga menit ke 33. Pada 3:33:50, nampak Sarwo berdiri tegak dengan sikap sempurna menghadap Soeharto yang sedang duduk di kursi kerja.

Kolonel Sarwo lalu mengucapkan cakapan, "Bagaimana Pak Harto, apa jadi dilaksanakan rencana menguasai Halim agar jangan kesiangan dan untuk menghindari pertempuran?"

Soeharto lalu berdiri lalu nampak tercenung dan kembali mondar-mandir terlihat sedang mempertimbangkan sesuai sebelum mengambil keputusan. Melihat Soeharto nampak bimbang itulah, lalu AH Nasution lalu bicara dengan Sarwo Edhie.

"Sarwo Edhie, jij mau bikin tweede Mapanget ya?" Arti kalimat itu adalah "Sarwo Edhie, kamu mau bikin Mapanget kedua ya?"

Seoharto lalu teringat keberhasilan operasi cepat yang pernah dipimpin Sarwo Edhie di Manado, akhirnya dia segera menyambut kalimat AH Nasution itu dengan mengucapkan perintah kepada Kolonel Sarwo sembari menunjuk, "Ya kerjakan sekarang juga!"

"Adegan yang kemudian diabadikan dalam diorama Pak Harto memberi perintah sembari menunjuk ke Pak Sarwo dan Pak Nas duduk dengan kaki diperban di atas meja itu di film produksi PPFN ada di 3:34;27," ujar Roy Suryo.

Apa arti 'tweede Mapanget'? Roy Suryo mengatakan kata 'Mapanget' merujuk pada Lanud Mapanget di Manado yang saat ini berganti nama menjadi Lanud Sam Ratulangi.

"Ini Pak Nas mengingatkan Pak Harto bahwa Tahun 1957, Pak Sarwo pernah membebaskan Lanud Mapanget di Manado, dengan pendadakan total, yang ketika itu dikuasai oleh Permesta. Makanya Pak Harto langsung sigap memerintahkan Pak Sarwo seperti tergambar di film maupun di diorama yang hilang di Makostrad itu," ujar Roy.

"Pak Nas seolah-oleh bertanya kepada Pak Sarwo Edhie namun sebenarnya tujuan Pak Nas saat itu adalah mengingatkan atau meyakinkan Pak Harto agar jangan ragu terhadap kemampuan Pak Sarwo melakukan operasi cepat dan tepat sasaran," lanjut Menpora di era SBY tersebut.

(mbr/sip)