Ini yang Dibahas Soeharto-Nasution-Sarwo Edhie dalam Diorama yang Dihilangkan

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 09:57 WIB
Diorama di Kostrad. (Dok akun Twitter resmi Kostrad, @Cakra_Kostrad)
Foto: Diorama di Kostrad. (Dok akun Twitter resmi Kostrad, @Cakra_Kostrad)
Yogyakarta -

Museum Kostrad kini ramai jadi sorotan karena hilangnya diorama dan patung-patung tokoh militer terdahulu di Museum Dharma Bhakti, Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat. Apa sebenarnya pembicaraan ketiga tokoh dalam diorama di ruang kerja Soeharto selaku Pangkostrad saat itu?

Pakar telematika, Roy Suryo, kepada detikcom memaparkan bahwa dalam film 'Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI' yang diproduksi Perum Produksi Film Negara (PPFN), adegan dalam diorama itu jelas sekali ditampilkan oleh Arifin C Noer selaku penulis skenario sekaligus sutradara fim tersebut.

Dalam adegan tersebut menampilkan tiga tokoh yang Pangkostrad Mayjen Soeharto (diperankan Amoroso Katamsi), Menko Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Kasab) Jenderal AH Nasution (diperankan Rudy Sukma) dan Kolonel Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo (diperankan Didi Sadikin).

Adegan itu dimulai dengan scene Soeharto nampak mondar-mandir di ruangan, sedangkan AH Nasution duduk di kursi memegang tongkat dengan kaki kiri diperban diletakkan di atas meja karena mengalami luka saat lolos dari upaya penculikan G30S pada 1 Oktober dinihari.

Scene selanjutnya masih di lokasi yang sama adalah masuknya Sarwo Edhie yang menghadap untuk meminta kejelasan perihal rencana pengambilalihan Pangkalan Halim Perdanakusumah yang saat itu dikuasai kelompok G30S. Adegan sebelumnya memang digambarkan ketika Sarwo gelisah di luar ruangan Pangkostrad menunggu komando untuk menyerbu Pangkalan Halim.

Dalam film sepanjang 4 jam 32 menit 45 detik itu, adegan itu tergambar ada jam ketiga menit ke 33. Pada 3:33:50, nampak Sarwo berdiri tegak dengan sikap sempurna menghadap Soeharto yang sedang duduk di kursi kerja.

Kolonel Sarwo lalu mengucapkan cakapan, "Bagaimana Pak Harto, apa jadi dilaksanakan rencana menguasai Halim agar jangan kesiangan dan untuk menghindari pertempuran?"

Soeharto lalu berdiri lalu nampak tercenung dan kembali mondar-mandir terlihat sedang mempertimbangkan sesuai sebelum mengambil keputusan. Melihat Soeharto nampak bimbang itulah, lalu AH Nasution lalu mengajak omong Sarwo Edhie.

"Pak Nas seolah-oleh bertanya kepada Pak Sarwo Edhie namun sebenarnya tujuan Pak Nas saat itu adalah mengingatkan atau meyakinkan Pak Harto agar jangan ragu terhadap kemampuan Pak Sarwo melakukan operasi cepat dan tepat sasaran," papar Roy Suryo.

Soeharto lalu teringat keberhasilan operasi cepat yang pernah dipimpin Sarwo Edhie di Manado, akhirnya dia segera menyambut kalimat AH Nasution itu dengan mengucapkan perintah kepada Kolonel Sarwo sembari menunjuk, 'Ya kerjakan sekarang juga!"

"Adegan yang kemudian diabadikan dalam diorama Pak Harto memberi perintah sembari menunjuk ke Pak Sarwo dan Pak Nas duduk dengan kaki diperban di atas meja itu di film produksi PPFN ada di 3:34:27," ujar Roy Suryo.

(mbr/mbr)