Menag Resmikan Desa Sadar Kerukunan di Bantul, Disebut Pertama di RI

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 29 Sep 2021 14:00 WIB
Menag Yaqut Cholil Qoumas di Bantul, DIY, Rabu (29/9/2021).
Menag Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meresmikan desa sadar kerukunan di Kalurahan Pendowoharjo, Sewon, Bantul, DIY. Penamaan tersebut diklaim sebagai yang pertama di Indonesia.

Menag Yaqut Cholil Qoumas menyebut keberadaan desa sadar kerukunan merupakan inisiatif yang luar biasa. Terlebih, kerukunan antar umat beragama adalah ciri khas Indonesia.

"Iya ini saya kira sebuah inisiatif yang luar biasa ya. Karena ya sebenarnya kerukunan ini jadi ciri khas Indonesia dan ini coba ditumbuhkan kembali melalui desa sadar kerukunan ini," katanya saat ditemui di Pendopo Manggala Parasamya II, Manding, Kabupaten Bantul, Rabu (29/9/2021).

Gus Yaqut, sapaan akrabnya, ini menyebut Indonesia terbentuk dari banyaknya perbedaan yang ada sehingga perbedaan bukanlah menjadi ancaman melainkan kekuatan bangsa Indonesia.

"Kita sadar bawa kita semua ini beragam, semua ini berbeda. Sejarah panjang negeri ini itu juga dibangun dari perbedaan, bukan malah yang berbeda jadi ancaman tapi menjadi kekuatan, itu sejarah bangsa kita. Nah, sekarang kita tumbuhkan dengan desa sadar kerukunan," ujarnya.

Sementara itu Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengaku desa tersebut menjadi yang pertama di Indonesia. "Ini adalah yang pertama kali di Indonesia pemerintah pusat mencanangkan desa sadar kerukunan," ujarnya.

Menyoal alasan pemilihan Kalurahan Pendowoharjo sebagai desa sadar kerukunan, Halim mengungkapkan jika di Kalurahan tersebut terdapat berbagai tempat ibadah. Terlebih, di Kalurahan tersebut tidak pernah terjadi kasus intoleransi.

"Alhamdulillah Pendowoharjo yang mewakili Kabupaten Bantul mewakili desa sadar kerukunan karena di sana ada masjid, ada gembala baik, ada gereja dan ada pura, dan selama ini tidak pernah ada masalah. Masyarakat di sana guyub rukun dan tidak mempermasalahkan keyakinan masing-masing," katanya.

(mbr/ams)