Muncul Klaster Corona Saat PTM, Pakar: Seharusnya SD Buka Terakhir

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 13:32 WIB
Guru memberikan materi pelajaran saat Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di kawasan SDN 13 Pagi Sunter Agung, Jakarta Utara, Rabu (8/9).
Ilustrasi. Foto Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SDN 13 Pagi Sunter Agung, Jakarta Utara, Rabu (8/9). (Foto: Pradita Utama)
Sleman -

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Bayu Satria Wiratama, menyoroti munculnya klaster sekolah saat pembelajaran tatap muka (PTM) yang muncul di sejumlah daerah. Menurutnya, PTM atau sekolah tatap muka seharusnya dilakukan secara bartahap dan dimulai dari jenjang tertinggi yakni SMA.

"Kita bisa lihat ternyata paling banyak (klaster) SD, dan menurun di SMA. Itu menunjukkan sebenarnya dari awal itu PTM harusnya buka bertahap dan sebaiknya dari yang paling tinggi levelnya. Dari SMA, kemudian SMP," kata Bayu saat dihubungi wartawan, Kamis (23/9/2021).

Dosen FKKMK UGM itu menjelaskan, PTM pada jenjang SD harusnya dilakukan paling akhir. Sebab, menurutnya siswa SD sulit untuk menerapkan 5M.

"Siswa SD kan paling susah untuk disuruh pakai masker, jaga jarak. Kemudian jumlah guru dan muridnya lebih sedikit dibanding SMP atau SMA sehingga pengawasannya akan sulit," jelasnya.

Bayu juga menyoroti soal vaksinasi. Sebab, hingga saat ini anak di bawah usia 12 tahun yang merupakan usia anak pada jenjang SD belum menerima vaksin Corona.

"Jadi vaksin kan baru 12 tahun ke atas. Saya kaget juga SD kok sudah dibuka karena setahu saya memang dari SMP-SMA yang sudah divaksin," kata Bayu.

Selain belum menerima vaksin, siswa SD juga paling berisiko tertular COVID-19. Karena, kata Bayu, ketaatan menerapkan protokol kesehatan masih kurang.

"Ini juga artinya harus ada evaluasi lebih awal. Karena buka sekolah itu tidak bisa sembarangan. Selama ini sekolah lebih siap pada pembelajaran bukan pada sistem kesehatan," sebutnya.

Bayu berkata, pemerintah daerah terutama dinas kesehatan perlu melakukan tracing terhadap kasus klaster sekolah saat PTM secara menyeluruh. "Jadi anak itu tertular dari dalam sekolah atau luar sekolah. Itu yang belum diketahui, kalau tidak segera di-tracing bisa menyebar ke mana-mana," jelasnya.

Simak juga video 'Dua SD di Tasik Hentikan Belajar Tatap Muka Gegara Guru Positif Corona':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikutnya...