Massa Aksi Demo Tolak Proyek 'Malioboro' Kota Tegal Rp 9 M

Imam Suripto - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 17:43 WIB
Massa demo tolak proyek Malioboro-nya Kota Tegal senilai Rp 9 miliar, Senin (20/9/2021).
Massa demo tolak proyek 'Malioboro'-nya Kota Tegal senilai Rp 9 miliar, Senin (20/9/2021). Foto: Imam Suripto/detikcom
Kota Tegal -

Massa dari kalangan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan elemen masyarakat lainnya menggelar aksi demo tolak revitalisasi kawasan Jalan Ahmad Yani, Kota Tegal, Jawa Tengah. Massa menolak proyek 'Malioboro'-nya Kota Tegal senilai Rp 9 miliar ini.

Pantauan di lokasi, massa di lokasi untuk menghalangi pekerja yang akan menggarap proyek revitalisasi. Mereka berkumpul sebelum para pekerja datang.

Hingga siang hari, tidak tampak pekerja yang datang melakukan pengerjaan proyek. Massa selanjutnya membubarkan diri tetapi tetap menyuarakan suara penolakan terkait rencana proyek tersebut.

Sekretaris Paguyuban Lesehan dan Pedagang Kaki Lima Jalan Ahmad Yani (Paleska Jaya), Theocracy, mengatakan proyek 'Malioboro' Kota Tegal merupakan kebijakan yang tidak pro rakyat. Pekerjaan ini dilaksanakan tanpa studi kelayakan terlebih dulu.

"Seharusnya ada studi kelayakan dan kajian terkait dengan dampak yang akan ditimbulkan," kata Theo, Senin (20/9/2021).

Menurut Theo, banyak dampak yang bisa ditimbulkan dari proyek itu. Di antaranya, PKL akan kehilangan lapak usaha jualannya karena tergantikan dengan foodtruck dan pertokoan akan kesulitan untuk melakukan bongkar muat barang.

"Kemudian, pedagang pasar pagi akan kesulitan bongkar muat barang, dan susahnya akses ke sana. Padahal, di pasar itu merupakan sentral perekonomian rakyat," ujarnya.

Massa demo tolak proyek 'Malioboro'-nya Kota Tegal senilai Rp 9 miliar, Senin (20/9/2021).Massa demo tolak proyek 'Malioboro'-nya Kota Tegal senilai Rp 9 miliar, Senin (20/9/2021). Foto: Imam Suripto/detikcom

Tidak hanya pedagang, kata Theo, juru parkir akan kehilangan penghasilannya karena kehilangan lokasinya. Sopir kendaraan umum seperti angkutan kota (angkot) akan mengalami penurunan penghasilan karena jalan dijadikan satu arah dan tidak bisa berhenti menunggu penumpang.

"Masyarakat juga akan kesulitan untuk sampai ke pasar pagi dan pertokoan di Jalan Ahmad Yani, karena kantong parkir yang jauh. Juga adanya penyempitan jalan dan pemberlakuan jalan satu arah jelas akan mengurangi pengunjung dan pembeli. Ini akan menjadikan penurunan pendapatan para pedagang," tandasnya.

Theo menambahkan, para pedagang jelas menolak rencana itu. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 dan PPKM yang belum selesai.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Tegal Sugiyanto mengatakan proyek tersebut untuk menjadikan Jalan Ahmad Yani Kota mirip Malioboro, Yogyakarta. Terkait pedagang di jalan itu, dia menyebut telah disediakan tempat relokasi. Ada dua tempat relokasi yakni Jalan HOS Cokroaminoto dan Setiabudi.

"Pemkot akan menjadikan Jalan A Yani sebagai Malioboronya Kota Tegal. Anggarannya Rp 9 miliar," kata Sugiyanto usai mengikuti Rapat Paripurna DPRD, hari ini.

"Kami Dinas PUPR, Dinas Perhubungan, Dinas UMKM, Satpol PP dan Kesbangpol sedang sudah merapatkan dengan beberapa perwakilan Ketua Kelompok PKL prinsipnya untuk relokasi sudah kita sediakan di Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Setiabudi," imbuhnya.

Simak juga 'Seniman Pantura Subang Demo di Kantor Bupati, Tuntut Izin Manggung':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/sip)