Selidiki Dugaan Peretasan LPSE, Polisi Mintai Keterangan Sekda Kudus

Dian Utoro Aji - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 11:43 WIB
Polres Kudus, Rabu (15/9/2021).
Polres Kudus, Rabu (15/9/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) lelang proyek gedung Instalasi Bedah Sentra (IBS) RSUD Kudus, Jawa Tengah diduga diretas. Untuk menyelidiki kasus itu, polisi meminta keterangan beberapa pihak di antaranya Sekda Kabupaten Kudus, Sam'ani Intakoris.

"Ada empat orang lah (yang telah mintai keterangan). Dari pihak ULP (Unit Layanan Pengadaan), dari Sekda (Sekretaris Daerah) juga," kata Kasat Reskrim Polres Kudus, AKP Agustinus David, kepada wartawan ditemui di Mapolres Kudus, Rabu (15/9/2021).

Dia mengatakan polisi menyelidiki kasus tersebut. Termasuk juga dugaan penggunaan jaringan IP Kominfo Kabupaten Magelang oleh peretas sistem LPSE.

"Masih kita selidiki, termasuk IP Kabupaten Magelang itu kita masih dalami terkait itu," terang dia.

Diberitakan sebelumnya, sistem LPSE lelang proyek gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Kudus, Jawa Tengah terindikasi diretas. Akibatnya proyek pembangunan gedung IBS senilai hampir Rp 30 miliar pun batal.

"Terkait dengan proyek gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD dr Loekmonohadi Kudus, karena adanya penyalahgunaan akun menjadikan kerugian di peserta, sehingga tidak sampai istilahnya persaingan yang sehat. Karena dasar tersebut pokja kemudian memutuskan untuk melakukan pembatalan, karena persaingan yang sehat tidak tercapai," kata Kepala Bagian Pengadaan Barjas Kabupaten Kudus, Doni Tondo Setiaji, di gedung DPRD Kabupaten Kudus, Kamis (2/9).

Dia mengatakan bahwa proses lelang proyek gedung IBS sudah bermasalah sejak awal pembukaan pada akhir bulan Juli 2021 lalu. Menurutnya saat pembukaan seharusnya ada dokumen penawaran dari penyedia jasa, namun saat itu tidak ada.

"Sudah ada masalah ketika pembukaan penawaran. 29 Juli 2021 seharusnya membuka akunnya di dalamnya ada dokumen penawaran dari penyedia. Pada waktu itu kosong. Terus tidak ada satupun dokumen penawaran yang masuk akun Pokja. Kemudian kita laporkan ke LKPP kemudian diproses," jelasnya.

Doni mengatakan meski sempat bermasalah namun proses lelang kembali dibuka. Disebutkan sebelumnya sempat ada pelelang yang dinyatakan menang proyek gedung IBS.

"Kemudian Pokja membuka kemudian kita melakukan evaluasi. Sehingga melakukan evaluasi ada satu pemenang dan ditetapkan menjadi pemenang statusnya diumumkan dalam serve Sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE)," jelasnya.

Lanjut dia, saat sanggah sejumlah peserta lelang lainnya menduga ada indikasi peretasan. Dari sembilang lelang ada sebanyak tujuh peserta yang akun mereka terindikasi diretas oknum yang tidak bertanggung jawab.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...