Curhatan Difabel Dayat, Panjahit Kaus Suvenir Terdampak Penutupan Borobudur

Eko Susanto - detikNews
Sabtu, 04 Sep 2021 13:34 WIB
Dayat, penajhit difabel yang terpukul pandemi Corona
Dayat, penajhit difabel yang terpukul pandemi Corona. (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Kabupetan Magelang -

Pandemi Corona ini berdampak terhadap sepinya pemesanan kaus suvenir yang dijual di kawasan wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Hal ini salah satunya dialami penjahit disabilitas, Nur Hidayat (35). Dayat dulunya menjahit dibantu 4 orang pekerja. Ia mulai mengerjakan jahitan kaus suvenir Borobudur semenjak 2013 sampai awal 2020, sebelum pandemi.

Saat itu, dalam seminggunya mampu menghasilkan 1.800 pieces (pcs) kaus suvenir Borobudur. Kemudian, dalam sebulannya hampir 6.000 pcs lebih. Selain itu, masih ada juga pesanan pembuatan kaus dari beberapa event maupun pesanan kaus olahraga dari beberapa sekolah.

Kemudian juga masih ada yang menjahitkan untuk seragam sekolah dan lainnya. Namun demikian, semenjak pandemi Corona pesanan pembuatan kaus suvenir Borobudur lambat laun turun drastis bahkan tidak ada. Demikian halnya dengan pemesanan dari kaus olahraga dan event-event.

"Sebelum ada Corona saya punya tenaga (karyawan) 4 orang. Yang dua motong, dua menjahit plus saya. Pekerjaan itu mengalami penurunan drastis, akhirnya saya pulangkan tenaga karena nggak ada kerjaan, sepi," kata Dayat saat ditemui di rumahnya Dusun Saragan, Desa Rambeanak, Mungkid, Magelang, Sabtu (4/9/2021).

Dayat menceritakan, mulai menjahit kaus suvenir Borobudur semenjak 2013 sampai 2020 awal. Bahan kaus Borobudur tersebut dipasok oleh seorang juragan, kemudian dipotong dan dijahit menjadi kaus. Setelah itu, baru disablon oleh jurangan yang memasok bahan tersebut.

"Kami cuma motong sama jahit karena sudah ada juragan-juragan yang masokin. Awalnya saya dipinjemin mesin jahit sama juragan tersebut. Alhamdulillah sekarang sudah jadi milik sendiri," tutur bapak dua anak, itu.

Dayat matang pengalaman di bidang menjahit. Difabel asal Bogor itu belajar menjahit selama setahun di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BBRSPDF) Prof Dr Soeharso Solo. Setelah lulus dari Solo, dia sempat bekerja di Solo, Semarang, Yogya hingga akhirnya di Magelang.

Dayat, penajhit difabel yang terpukul pandemi CoronaDayat, penajhit difabel yang terpukul pandemi Corona (Foto: Eko Susanto/detikcom)


Sebelum lebaran, 4 pekerjanya harus dipulangkan. Hal tersebut terpaksa berhenti menjahit karena tidak adanya pekerjaan akibat pandemi sehingga tal ada orderan menjahit.

"Mau nggak mau kita nggak bisa menahan karena nggak berani jamin sehari-harinya itu. Kalau buat makan, saya insyaallah masih siap, tapi kalau untuk bayarnya kan kasihan. Kita bisa bayar dari penghasilan yang didapat," katanya.

Bahkan Dayat yang semula memiliki 4 mesin jahit, satu di antaranya kini harus dijual untuk mencukupi kebutuhan.

"Biasanya saya musim sekolah terima kaus olahraga dari beberapa sekolah, sekarang nggak ada sama sekali. Terus yang biasanya saya jahit seragam sekolah 10 sampai 20 orang, sekarang hanya nerima 5 orang," ujarnya yang sekarang dijahit sendiri," katanya.

"Kemarin kita tertolong sama masker. Masker dari Puskesmas Mungkid. Kadang bikin 50 lusin, terakhir kemarin itu cuma 10 lusin," pungkasnya.

(mbr/mbr)