Kasus Aktif Turun Tapi Klaten Masih PPKM Level 4, Ternyata Ini Alasannya

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 26 Agu 2021 12:29 WIB
Tim Ahli Satgas Percepatan Pengendalian COVID-19 Kabupaten Klaten dokter Roni Roekmito, Kamis (26/8/2021).
Tim Ahli Satgas Percepatan Pengendalian COVID-19 Kabupaten Klaten dokter Roni Roekmito, Kamis (26/8/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Angka kasus aktif Corona atau COVID-19 di Klaten, Jawa Tengah telah turun dan tempat isolasi mulai sepi. Namun, Klaten sampai saat masih ditetapkan sebagai daerah PPKM Level 4 ternyata karena faktor kondisi wilayah sekitar (aglomerasi).

"Penyebabnya aglomerasi. Kemarin Dirjen Administrasi Wilayah (Admil) bilang kalau dalam satu aglomerasi Solo Raya itu ada satu atau dua di level 4, maka semua level 4," terang Tim Ahli Satgas Percepatan Pengendalian COVID-19 Kabupaten Klaten dokter Roni Roekmito kepada wartawan, Kamis (26/8/2021).

Roni menjelaskan, menurut Kemendagri kondisi di Jawa berbeda dengan di luar Jawa. Di Jawa tidak ada batas wilayah berupa laut dan hutan.

"Di Jawa tidak ada batas laut dan hutan, mobilitas sangat dekat. Di luar Jawa ada batas laut dan hutan, mau di sana level 4 tapi di daerah lain bisa beda," lanjut Roni.

Jika mengacu data terakhir hari Rabu (25/8), terang Roni, angka aktif Corona di Klaten sudah di bawah wilayah sekitar. Dengan jumlah hanya 505 kasus mestinya Klaten tidak di level 4. Sedangkan berdasarkan catatan, kasus aktif Corona di Klaten sempat mencapai 1.008 kasus pada Selasa (17/8) dan 837 kasus pada Kamis (19/8). Jumlah kasus aktif Corona di Klaten pada awal Agustus bahkan sempat mencapai angka 2.879 kasus.

"Kita sudah di bawah 1.300. Kemarin kalau kita melihat angka kasus aktif 505 itu mestinya kita sudah di level 2, tapi karena aglomerasi ya bagaimana lagi," sambung Roni.

Roni mengungkap lokasi-isolasi terpusat (isoter) untuk menampung pasien COVID di Klaten mulai sepi. Isoter di kecamatan dan desa mulai kosong.

"Isoter kecamatan maupun desa banyak yang kosong. Tingkat isian 14,3 persen, 120 bed dari total 823 bed baik kabupaten, kecamatan dan desa," papar Roni.

Lokasi isoter kabupaten, sebut Roni, juga mulai sepi dari pasien. Mulai dari Edotel sampai Panti Semedi tidak lagi penuh dan antre pasien.

"Data terakhir di panti semedi isi 34, Edotel isi 37, di Bayat cuma 28 dari kapasitas 80, GOR isi 15 dari kapasitas 100. Di kecamatan dan desa praktis banyak yang kosong tidak digunakan," lanjut Roni.

Meskipun sepi, tegas Roni, lokasi isolasi terpusat akan tetap dipertahankan. Baik yang di kabupaten sampai tingkat desa. Hal itu karena sudah ada dana perawatan.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...