Sederet Aksi Gibran 'Parkir' Mobil Dinas untuk Awasi Pelanggaran

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 13:33 WIB
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka memarkirkan mobil dinasnya di SMK Batik 2 Solo.
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka 'memarkirkan' mobil dinasnya di SMK Batik 2 Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Aksi Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka 'memarkir' mobil dinasnya di SMK Batik 2 Solo mencuri perhatian publik. Namun aksi itu bukan hal yang baru, sebab hal ini sudah ketiga kalinya dilakukan Gibran.

Selama ini Gibran tidak pernah memberi penjelasan terkait alasannya meninggalkan mobil. Namun dapat dilihat jika dia selalu melakukannya di tempat yang diduga terjadi sebuah dugaan pelanggaran.

1. Pungli di Gajahan

Pertama kali Gibran melakukan aksi parkir mobil saat di kantor Kelurahan Gajahan. Saat itu, terjadi dugaan pelanggaran pungutan liar yang menyeret nama Lurah Gajahan.

Kejadian bermula ketika lurah menandatangani surat yang digunakan petugas linmas meminta dana menjelang hari raya Idul Fitri. Surat beredar hingga Gibran menerima laporan dari masyarakat pada 30 April 2021.

Malam itu Gibran segera memeriksa pihak-pihak yang bersangkutan. Selama beberapa hari, mobil dinas Gibran diparkir di kantor Kelurahan Gajahan. Kejadian itu berujung pada pencopotan jabatan Lurah Gajahan.

2. Perusakan makam oleh anak-anak

Kali kedua Gibran melakukan aksi serupa ialah saat terjadi dugaan perusakan makam oleh anak-anak siswa rumah belajar di Mojo, Pasar Kliwon, Solo. Mendapat laporan warga, Gibran langsung mendatangi makam pada 21 Juni 2021.

Anak-anak dari rumah belajar Islam itu diduga merusak makam dengan simbol-simbol agama lain. Gibran meminta agar kasus dibawa ke ranah hukum.

Setelah mendatangi lokasi, Gibran meninggalkan tempat tanpa membawa mobilnya. Mobil Toyota Innova putih itu diparkir di lapangan sekitar permakaman.

3. Rencana PTM saat Solo PPKM level 4

Kali ketiga yakni saat Gibran mengetahui rencana SMK Batik 2 Solo untuk menggelar pembelajaran tatap muka (PTM). Padahal, Solo masih menjalankan PPKM Level 4.

Mobil dinas itu dibawa oleh ajudan dan sopir Gibran menuju SMK Batik 2 Solo, Sabtu (21/8) petang. Mereka menitipkan mobil itu kepada warga sekitar.

"Dari pihak sekolah sudah menyebarkan surat ke orang tua murid. Tanya aja ke kepala sekolah. Apakah sudah izin, apakah sudah ke Satgas COVID-19," kata Gibran di Balai Kota Solo, Minggu (22/8).

"Apa pun itu pasti saya tahu, mau sembunyi-sembunyi, pasti saya tahu. Itu sangat membahayakan murid, anak-anak di bawah umur," kata dia.

Sedangkan mengenai aksinya memarkir mobil, Gibran enggan bicara banyak. Dia juga belum berencana mengambil mobilnya. Namun dia memastikan ingin masalah tersebut ditangani sampai tuntas.

"Ya nggak apa-apa to (memarkir mobil). Bukan masalah mengambil (mobil) atau tidak diambil. Tapi problemnya selesai apa belum," katanya.

Sebagai simbol pengawasan

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Nurhadi menyebut aksi Gibran adalah sebuah simbol pengawasan khusus. Menurutnya, usia muda juga menjadi salah satu penyebab Gibran menggunakan simbol-simbol.

"Kendaraan dinas itu bisa menjadi simbol dari penggunanya. Artinya, walaupun Mas Gibran nggak di situ, tetap akan diawasi secara khusus. Mungkin juga karena Mas Gibran masih muda, tidak enak jika langsung memarahi orang yang lebih tua, maka menggunakan simbol," kata Nurhadi saat dihubungi detikcom, Senin (23/8/2021).

Dia mencontohkan hal serupa terjadi saat mobil kepala instansi atau perusahaan diparkir di depan kantor. Maka staf di bawahnya tentu akan merasa diawasi.

"Begitu juga zaman dahulu saat kereta raja berkeliling. Meskipun kereta kosong, rakyat akan merasa ada raja yang berkeliling," pungkasnya.

Tonton juga Video: Permudah Bansos, Mentan Luncurkan ATM Beras di Solo

[Gambas:Video 20detik]



(ams/sip)