Kisah Tunanetra Penderes Nira di Kulon Progo, Bisa Panjat 20 Pohon Sehari

Jalu Rahman Dewantara - detikNews
Minggu, 22 Agu 2021 18:34 WIB
Parjan (51) penderes tunanetra di Kulon Progo ini mampu panjat 20 pohon kelapa sehari
Parjan (51) penderes tunanetra di Kulon Progo ini mampu panjat 20 pohon kelapa sehari (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom)
Kulon Progo -

Keterbatasan fisik tak menghalangi semangat Parjan (51) dalam menjalani hidupnya. Dalam sehari penyandang disabilitas tunanetra asal Kulon Progo ini bisa memanjat hingga 20 pohon kelapa untuk menyadap nira demi menghidupi keluarganya.

Parjan tinggal di RT 78/RW 24, Dusun Plampang III, Kalurahan Kalirejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mata bapak dua anak mulai menjadi buta saat dia mulai menderita katarak pada awal 2000 lalu.

"Mulai ada gejala itu tahun 2000-an, lalu saya periksa ke beberapa rumah sakit, bahkan sempat di Sardjito juga, tapi karena sudah parah akhirnya dinyatakan buta sekitar 10 tahun lalu," ucap Parjan saat ditemui di rumahnya, Jumat (20/8/2021).

Parjan mengaku menjadi penderes nira sejak usia masih belia yakni 15 tahun. Meski kini sudah berusia senja, tubuh kurusnya masih kuat untuk memanjat puluhan pohon nira dalam sehari.

"Dulu waktu masih normal saya bisa manjat sampai 40 pohon per hari, kalau sekarang yang paling 20-an, tergantung cuacanya juga," ucapnya.

Setiap harinya, Parjan mengawali aktivitas pada pukul 07.00 WIB pagi. Berbekal peralatan seadanya seperti potongan bambu sebagai wadah nira, dan sebilah parang, Parjan berangkat ke pekarangan di sekitar rumahnya yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.

Keterbatasan penglihatan tak menjadi masalah buatnya, sebab Parjan mengandalkan daya ingatnya untuk menemukan lokasi pohon kelapa. Setiba di pohon kelapa yang dia pilih, Parjan langsung memanjatnya dan mulai mengambil air nira yang ada dalam wadah bambu. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit, Parjan sudah turun dari pohon kelapa yang tinggi.

Untuk pengolahan nira, Parjan dibantu istrinya Kamsih (43). Kamsih lalu mengolah air nira itu menjadi gula Jawa.

"Kalau sudah dapat niranya, tinggal disaring lalu direbus sekitar 2-3 jam, nanti nira akan mengeras dan jadi gula Jawa," terang Kamsih.

Hidup dalam keterbatasan tak terdaftar PKH

Dalam sehari pasangan suami istri ini mampu menghasilkan 3 kg gula Jawa. Harga jual 3 kg gula Jawa ini sekitar Rp 50 ribu, atau dalam sebulan mereka bisa mengantongiuang Rp 1,5 juta.

"Itu kalau dalam kondisi bagus, yaitu saat nira yang diperoleh bapak (Parjan) banyak, kalau pas cuaca buruk kaya hujan atau kemarau susah dapat segitu," ungkap Kamsih.

Penghasilan minim itu membuat kedua pasutri ini tinggal dalam keterbatasan. Mayoritas uang hasil penjualan gula Jawa itu, digunakan untuk membiayai kedua anak perempuan mereka sekolah. Satu di antaranya menempuh pendidikan di pondok pesantren, dan seorang lagi di sekolah umum.

"Misal buat makan itu kami ya seadanya aja, yang penting perut tetap terisi," ujar Kamsih.

Selengkapnya di halaman berikutnya..