Tugu Peluru Klaten, Jejak 2 Pejuang yang Gugur Ditembak Pesawat Belanda

Achmad Syauqi - detikNews
Rabu, 18 Agu 2021 11:09 WIB
Tugu Peluru Klaten, Rabu (18/8/2021).
Tugu Peluru Klaten, Rabu (18/8/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Keberadaan Tugu Peluru di pusat Kota Klaten, Jawa Tengah barangkali tak banyak diketahui karena letaknya yang tersembunyi. Padahal tugu Peluru di tepi Jalan Veteran itu menjadi jejak sejarah peristiwa gugurnya dua pejuang kemerdekaan.

"Cerita nenek saya di situ (tugu) dulu kan tempat gugurnya Kopral Sayom dan Sersan Sadikin. Terjadi clash dengan pesawat tempur Belanda," ungkap Ketua RW 5 Ngingas Kidul, Bareng Lor, Kecamatan Klaten Utara, Tridoyo (44) kepada detikcom, di rumahnya, Rabu (18/8/2021).

Pantauan detikcom, lokasi berada di tepi jalan raya pusat kota tetapi diapit bangunan. Luas lahan monumen hanya 95 meter2 dipagar besi satu meter.

Di dalam kompleks selain berdiri tugu berbentuk peluru bercat warna emas, juga terdapat relief. Di bagian depan terdapat prasasti bertulis:

DI TEMPAT PERTAHANAN INI GUGURNYA PAHLAWAN SERSAN SADIKIN DAN KOPRAL SAYEM DALAM PERTEMPURAN ANTARA TENTARA KITA TNI MELAWAN DUA PESAMAT TERBANG BELANDA (COCOR MERAH) PADA PERANG KEMERDEKAAN I, BULAN JULI 1947


Tridoyo yang rumahnya hanya berjarak sekitar 50 dari tugu menuturkan, dua pejuang itu gugur tahun 1947. Dia menceritakan peristiwa berdarah itu terjadi saat para pejuang melintas di lokasi tersebut.

"Saat melihat pesawat Belanda, para pejuang termasuk dua yang gugur itu menembaki pesawat. Tahu ditembak dari bawah pesawat yang sampai Jetak (dekat stasiun) balik dan menembaki para pejuang," papar Tridoyo.

Pertempuran itu, tutur Tridoyo, tidak dapat dihindarkan. Kopral Sayom dan Sersan Sadikin gugur tertembak peluru pesawat Belanda.

"Keduanya terkena tembakan (dari) pesawat dan gugur. Dulu kata nenek dan kakek saya lokasi pertempuran itu sawah dan tegalan, belum penuh bangunan seperti saat ini," jelas Tridoyo.

Jalan Veteran yang menjadi lokasi Tugu Peluru, sambung Tridoyo, dulunya hanya jalan kampung biasa. Kanan dan kiri jalan itu banyak sawah dan kebun warga.

"Di kanan kiri masih sawah dan kebun warga. Rumah simbah saya dulu sampai tengah jalan sana, dari lokasi pertempuran tidak terlalu jauh," lanjutnya.

Warga sampai saat ini, kata Tridoyo tidak mengetahui dari mana asal dua pejuang. Dipastikan keduanya bukan warga sekitar daerah itu.

"Keduanya jadi nama jalan. Jalan Kopral Sayom/Sayem dari Bareng lor sampai stasiun, Jalan Sersan Sadikin dari GOR ke Utara," lanjut Tridoyo.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...