Mengulik Suksesi Pura Mangkunegaran, Takhta Tak Selalu Turun ke Anak

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Senin, 16 Agu 2021 19:49 WIB
Prosesi pemakaman KGPAA Mangkunegara IX akan dilakukan hari ini. Sejumlah tokoh datangi Pura Mangkunegaran untuk ikuti prosesi pemakaman KGPAA Mangkunegara IX.
Suasana di Pura Mangkunegaran jelang pemakaman KGPAA Mangkunegara IX (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Pura Mangkunegaran tengah bersiap melakukan pergantian kepemimpinan setelah wafatnya KGPAA Mangkunegara IX. Menilik rangkaian suksesi Mangkunegaran, ternyata takhta tak selalu menurun kepada anak.

Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Susanto, menyebut justru pewaris takhta lebih banyak menurun kepada cucu sang penguasa Pura Mangkunegaran. Hal ini terjadi sejak perpindahan kekuasaan dari Mangkunegara I kepada Mangkunegara II.

"Pewarisnya justru lebih banyak turun kepada cucu, menantu atau adik," kata Susanto saat dijumpai di UNS, Solo, Senin (16/8/2021).

Sebut saja Mangkunegara II atau RM Sulama yang menjadi penerus takhta Mangkunegara atau RM Said, pendiri Mangkunegaran. RM Sulama merupakan cucu dari Mangkunegara I.

Ayah RM Sulama adalah Pangeran Arya Prabumijaya I, putra dari Mangkunegara I. Kala itu Prabumijaya menikah dengan Kanjeng Ratu Alit, putri Pakubuwono III dan melahirkan RM Sulama.

"Anaknya Mangkunegara I itu meninggal. Jadi penerusnya adalah cucunya," ujarnya.

Kemudian Mangkunegara III atau RM Sarengat juga bukan anak, melainkan cucu dari Mangkunegara II. Ibunya adalah putri dari Mangkunegara II.

Selanjutnya, kepemimpinan Mangkunegaran dipegang oleh Mangkunegara IV atau KPH Gandakusuma yang merupakan menantu sekaligus adik sepupu Mangkunegara III. Ibu Mangkunegara IV adalah putri dari Mangkunegara II.

"Di era Mangkunegara IV ini Pura Mangkunegaran mengalami kemajuan yang pesat, mendirikan dua pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu," katanya.

Takhta Pura Mangkunegaran kemudian berlanjut ke Mangkunegara V atau RM Sunita. RM Sunita merupakan putra kedua dari Mangkunegara IV dengan permaisuri kedua, RA Dunuk.

Di tangan Mangkunegara V, Pura Mangkunegara mengalami defisit yang besar. Dia lalu digantikan oleh adiknya sendiri, Mangkunegara VI atau RM Suyitno.

"Mangkunegara V sebetulnya punya putra, Suryakusuma, tapi memiliki istri orang Belanda. Mungkin masalah keyakinan, akhirnya yang diangkat adalah adik Mangkunegara V," kata dia.

Di era Mangkunegara VI, defisit istana berhasil dikendalikan dalam waktu singkat. Susanto menyebut Mangkunegara VI lalu mengundurkan diri dari takhta pada 1916 dan menetap di Surabaya. Saat itu dia aktif dalam organisasi Budi Utomo.

"Dari Mangkunegara VI, lalu berlanjut ke Mangkunegara VII atau Suryosuparto yang merupakan salah satu anak dari Mangkunegara V. Jadi saat Mangkunegara V wafat, Suryosuparto ini masih kecil, tapi akhirnya menjadi Mangkunegara VII," kata Susanto.

Mangkunegara VII kemudian menurunkan takhta kepada putranya, yaitu RM Hamidjojo Sarosa yang menyandang gelar Mangkunegara VIII. Era Mangkunegara VIII adalah masa peralihan zaman kolonial dengan kemerdekaan.

Dari Mangkunegara VIII, takhta kembali menurun kepada anak. Mangkunegara IX adalah anak laki-laki kedua dari Mangkunegara VIII. Kakak laki-lakinya meninggal dalam kecelakaan, sehingga dirinya yang diangkat sebagai adipati.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...

Tonton juga Video: Pelayat Mangkunegara IX Datang Dari Jauh

[Gambas:Video 20detik]