Mengapa KGPAA Mangkunegara VI Tak Dimakamkan di Mangadeg atau Girilayu?

Ari Purnomo - detikNews
Sabtu, 14 Agu 2021 12:44 WIB
Astana Oetara, Nayu, Solo, Sabtu (14/8/2021).
Astana Oetara, Nayu, Solo, Sabtu (14/8/2021). (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Solo -

Astana Mangadeg ataupun Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi Pengageng Mangkunegaran. Namun terdapat seorang Pengageng Mangkunegaran yang ternyata tidak dimakamkan di tempat tersebut yakni Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VI atau yang bernama kecil RM Suyitno. Apa alasannya?

"Beliau itu sebelum mengundurkan diri (mendengar) bahwa (pihak) Belanda bilang gini, bahwa keluarga lainnya (kerabat Mangkunegaran) bilang gini, bahwa istri dia (MN VI) yang melahirkan (putra yang dipersiapkan sebagai peganggantinya) bukan permaisuri, jadi yang lahir itu anak selir (KPH Soejono)," terang Cicit dari KGPAA Mangkunegara VI, RA Savitri Paramita Rohiyati (65), saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (14/8/2021).

"Peraturan Belanda anak selir tidak boleh menjadi raja (pengageng pura), itu beliau mendengar itu. Jadi dengan legowo ya wis 'saya tak mundur saja', tanpa bawa apa-apa keluar dari Pura mangkunegaran ke Surabaya," sambung Savitri.

Setelah itu, lanjut Savitri, pada tahun 1914 Mangkunegara VI dengan lapang dada mengundurkan diri sebagai pengageng di Pura Mangkunegaran.

Pada tahun 1928 tepatnya 25 Juni, Mangkunegara VI wafat setelah menjalani perawatan di RS Darmo, Surabaya. Kemudian jenazah Mangkunegara VI dibawa ke Solo menggunakan kereta api dari Stasiun Gubeng, Surabaya.

"Sampai di Solo jenazah disemayamkan di Tiong Ting, Solo dan disambut oleh para pengikutnya dan warga China saat itu. Persemayaman di Tiong Ting ini atas permintaan masyarakat China pada waktu itu," ucapnya.

"Karena beliau merasa sudah tidak lagi menjadi raja (pengageng), maka beliau tidak mau lagi masuk di Pura Mangkunegaran, makanya disemayamkan di Tiong Ting," sambung Savitri.

Baru setelah itu, jenazah diberangkatkan ke Astana Oetara menggunakan kereta kencana. Savitri mengatakan, sang kakek buyut memang sudah mempersiapkan lahan untuk pemakamannya.

Selain untuk dirinya, lahan yang dibelinya pada tahun 1909 dengan luas 14.000 meter persegi itu juga digunakan untuk permakaman anak-anak hingga para pengikutnya.

"Beliau juga yang merencanakan tempat pemakamannya, dulu namanya Manyu Giriyoso Sekaran Nayu. Beliau menyiapkan tempat biar bisa berkumpul dengan putra, cucu, wayah, sampai canggah, wareng, kerabatnya, pegawainya yang minta juga dikasih tempat di belakang masjid termasuk bapak dan ibunya pak Airlangga Hartarto," ungkap dia.

Savitri menegaskan tidak ada larangan atau penolakan trehadap Mangkunegara VI untuk dimakamkan di Mangadeg atau Astana Girilayu. Namun Mangkunegara VI telah mempersiapkan permakaman untuknya sendiri di Astana Oetara.

"Beliau yang memilih tempat pemakaman sendiri, bukan karena dilarang untuk dimakamkan di Girilayu," pungkas Savitri.

Simak video 'KGPAA Mangkunegara IX akan Dimakamkan di Samping Makam Ayahnya':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/sip)