Pemkot Semarang: Penurunan Tanah Mulai Terjadi 30 Tahun Lalu

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 07 Agu 2021 18:01 WIB
Suasana kawasan Tambak Lorok, Semarang yang semakin tenggelam, Sabtu (7/8/2021).
Suasana kawasan Tambak Lorok, Semarang yang semakin tenggelam, Sabtu (7/8/2021). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Pakar memprediksi Kota Semarang bagian utara akan tenggelam 50 tahun lagi. Terkait prediksi itu, Pemerintah Kota Semarang mengungkap penurunan muka tanah di wilayah ini mulai terjadi pada sekitar 30 tahun lalu dan sejumlah antisipasi sudah dilakukan.

"Saya pikir penurunan tanah atau land subsidence itu penelitian memang sudah lama ya, artinya bahwa ada penurunan tanah setiap tahun sekitar 10 cm. Tapi juga perlu penelitian lebih lanjut karena dalam sejarah kota Semarang, (penurunan muka tanah) land subsidence mulai terjadi 20-30 tahun lalu, tidak sejak dulu," kata Sekretaris Daerah Kota Semarang, Iswar Aminuddin, saat ditemui detikcom di kantornya, Jumat (7/8/2021).

Menurutnya pengambilan air tanah bukan menjadi satu-satunya penyebab penurunan muka tanah, maka perlu penelitian lebih lanjut. Meski demikian hasil penelitian yang sudah ada menjadi pegangan untuk melakukan langkah-langkah antisipasi.

"Sudah intens dilakukan (upaya antisipasi). Terbukti kemarin sudah selesai proyek SPAM Semarang Barat untuk berikan air bersih di kawasan Barat Kota Semarang. Jadi beberapa kecamatan yang tidak teraliri PDAM kini sudah beroperasional. Kawasan industri yang gunakan air tanah di sisi Barat sudah berkurang," jelasnya.

Iswar mengatakan penanganan ini dilakukan keroyokan, tidak hanya Pemkot Semarang. Namun juga oleh Pemprov Jateng dan pemerintah pusat. Untuk wilayah bagian utara sendiri ada dua proyek jalan tol, yaitu Tol Semarang-Demak yang sudah berjalan di sesi 2 dan juga ada Tol pelabuhan atau Harbour To Road. Tol tersebut juga memiliki fungsi sebagai tanggul.

"Kemudian antisipasi terjadi pengambilan air tanah berlebih, di dua tepat itu di Tol Semarang-Demak akan dibangun kolam retensi di samping pengendali banjir kita berharap kolam retensi yang luasnya kurang lebih 200 sekian hektare dengan rencana yang ada insyaallah air bersih di kawasan itu bisa terpenuhi, sehingga industri di kawasan utara tidak mengambil air tanah," jelasnya.

Untuk tol pelabuhan, saat ini masih dalam proses perhitungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan diharapkan selesai tahun ini. Di tol tersebut juga rencananya akan dibangun kolam retensi sehingga ketersediaan air baku di sana makin melimpah.

"Harbour tol road masih dalam kajian dari direktorat jenderal pembiayaan. Diharapkan tahun ini selesai soal nilai investasi," ujarnya.

Selain di hilir, lanjut Iswar, penanganan di hulu juga dilakukan dengan upaya mengembalikan fungsi sungai agar bisa juga dimanfaatkan sebagai penyedian air baku. Kajian sudah dilakukan bersama kerajaan Belanda dengan program water as leverage.

"Mengembalikan fungsi sungai. Sungai kan fungsinya tampung air hujan, saat kemarau dimanfaatkan masyarakat. Sekarang tidak, kalau hujan kadang banjir, kemarau kering, ini juga persoalan. Kajian yang dilakukan dengan water as leverage," tegasnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...