4 Bocah di Bantul Jadi Yatim Piatu Setelah Ortu Meninggal Akibat Corona

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 15:56 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Bantul -

Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul menyebut ada 4 bocah yang menjadi yatim piatu usai orang tuanya meninggal terpapar virus Corona. Pemkab Bantul mengaku belum memberikan bantuan kepada 4 anak tersebut.

"Untuk yang statusnya yatim piatu setelah orang tuanya meninggal terpapar COVID-19 ada empat orang," kata Ketua FPRB Kabupaten Bantul, Waljito, saat dihubungi wartawan, Rabu (28/7/2021).

Lebih rinci, 4 bocah tersebut terdiri dari 2 warga Kalurahan Bantul, Kapanewon Bantul dan 2 warga Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sewon.

"Ada beberapa yang kehilangan salah satu orang tuanya, dan untuk kapanewon yang lain masih dalam pendataan," ucapnya.

Pendataan tersebut, kata Waljito, wajib untuk dilakukan karena pihaknya tidak ingin mereka yang kehilangan orang tua maupun tulang punggung keluarga tidak tersentuh bantuan. Terlebih saat ini masih dalam rangka PPKM Level 4.

"Jadi pendataan ini untuk jaring pengaman dan nantinya akan diberikan kepada mereka. Intinya kami ingin membantu meringankan beban mereka yang kehilangan orang tua dan tulang punggung keluarga akibat COVID-19," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Bantul, Didik Warsito, mengaku belum memiliki data terkait jumlah anak yang orang tuanya meninggal akibat setelah terpapar COVID-19. Oleh sebab itu, sampai saat ini belum ada bantuan dari pihaknya terhadap 4 anak yang menjadi yatim piatu tersebut.

"Nanti kami akan konfirmasi lewat Desa maupun Dinkes untuk datanya. Karena sejauh ini kami memang belum punya datanya," ucap Didik.

Selanjutnya, kata Didik, akan dilakukan konsultasi terkait pemberian bantuan kepada bocah-bocah yang menjadi yatim piatu akibat orang tuanya meninggal terpapar virus Corona tersebut.

"Setelah ada (data) akan kami konsultasikan dan masukkan dalam refocusing anggaran. Mungkin bisa saja bentuknya tidak hanya bantuan, tapi juga trauma healing," ujarnya.

(mbr/rih)