Petugas Pemakaman Kota Magelang Kewalahan, Akhirnya Dibagi 3 Shift

Eko Susanto - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 18:27 WIB
Permakaman di TPU Giriloyo, Kota Magelang, Kamis (22/7/2021).
Permakaman di TPU Giriloyo, Kota Magelang, Kamis (22/7/2021). (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Kota Magelang -

Petugas pemakaman di TPU Giriloyo, Kota Magelang, Jawa Tengah kewalahan memakamkan warga yang meninggal dengan protokol kesehatan (prokes) virus Corona atau COVID-19. Untuk itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang membagi petugas pemakaman dengan tiga shift seiring meningkatkan kasus meninggal.

"Pemakaman prokes (Corona) itu kami terima dari rumah sakit seluruh Kota Magelang untuk warga Kota Magelang. Rujukannya cuma di TPU Giriloyo dengan kebijakan Pemkot Magelang retribusi dan biaya pemakamannya nol, sehingga sesuai tugas pokok dan fungsi kami. Salah satunya menyediakan untuk pemakaman protokol kesehatan," jelas Kepala Bidang Pengelolaan Penerangan Jalan Umum, Pertamanan dan Pemakaman, Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang, Yetty Setiyaningsih kepada wartawan, Kamis (22/7/2021).

Berdasarkan pantauan di TPU Giriloyo Kota Magelang, terdapat blok khusus untuk pemakaman dengan protokol kesehatan. Di lokasi ini telah dibuatkan liang lahad untuk pemakaman dengan menggunakan alat berat.

Menurut Yetty, tenaga pemakaman ada 22 orang yang melayani pemakaman prokes dan nonprokes. Namun demikian, akhirnya kewalahan seiring meningkatnya kasus Corona di Kota Magelang. Untuk itu, ada penambahan tenaga dari seksi lainnya dan membagi dalam tiga shift.

"Saat ini kami punya 22 petugas pemakaman, tapi karena melayani prokes dan nonprokes tentu saja akhirnya kami kewalahan karena meningkat tajam. Akhirnya kami menggunakan strategi lintas seksi. Kebetulan di bidang saya ada dua seksi, jadi satu seksi yang untuk perawatan pohon peneduh itu kita alihkan jadi petugas protokol COVID-19. Kami ambil delapan orang. Sekarang kami menggunakan sistem shift," ujarnya.

Pembagian tiga shift tim pemakaman ini terdiri dari mulai pukul 07.00-12.00 WIB, kemudian 12.00-17.00 WIB dan pukul 17.00-22.00 WIB. Setelah itu, ada yang piket mulai pukul 22.00-07.00 WIB. Diharapkan dengan sistem shift maka stamina para petugas akan lebih terjaga.

"Kami sempat satu hari itu ada 20 pemakaman terdiri prokes 16 dan 4 nonprokes, itu pernah di kurva yang sangat tajam. Akhirnya kami pakai sistem shift,"

Lonjakan pemakaman secara prokes, kata dia, terjadi pada bulan Juli ini. Sedangkan pada bulan Juni ada 45 jenazah yang dimakamkan secara prokes.

Yetty menjelaskan untuk menjaga stamina dan kesehatan terhadap para petugas pemakaman juga memberikan vitamin, madu dan susu.

"Kalau makan, kita tetap sediakan dari kantor. Kalau shift malam ya kita tetap sediakan karena mereka itu kan kerjanya nggak kenal waktu. Kita mau tidak mau harus support lebih juga," ujarnya.

(sip/ams)