RS COVID Penuh, Shelter Kalurahan di Bantul Tampung Pasien Gejala Berat

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 16:53 WIB
Menko PMK RI Muhadjir Effendy saat berkomunikasi dengan pasien Corona di shelter COVID-19, eks RS Patmasuri, Sewon, Bantul, Kamis (18/2/2021).
Ilustrasi. Foto: Shelter COVID-19, eks RS Patmasuri, Sewon, Bantul, Kamis (18/2/2021). (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Pemerintah Kalurahan Panggungharjo di Kabupaten Bantul, DIY, mengaku mulai menerima pasien positif virus Corona atau COVID-19 bergejala berat di shelter kalurahan. Pasalnya pasien dengan gejala tersebut tidak mendapatkan tempat perawatan di rumah sakit (RS) rujukan Corona gegara penuh.

Lurah Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, Wahyudi Anggoro Hadi, mengaku pihaknya mengelola shelter kalurahan di gedung SMK Sewon. Sejak 2 pekan ini, Wahyudi menyebut ada pasien positif Corona dengan gejala berat yang masuk ke shelter tersebut.

"Sudah 2 pekan ini shelter kalurahan menerima pasien (Corona) bergejala berat. Mereka dirawat di shelter (kalurahan) karena tidak tertampung di rumah sakit rujukan COVID-19," kata Wahyudi saat dihubungi detikcom, Rabu (21/7/2021).

Menurutnya, saat ini kapasitas shelter kalurahan sudah penuh sehingga tidak bisa menerima pasien lagi.

"Kapasitas shelter 40 orang, untuk yang gejala berat saat ini ada 3 orang. Sebenarnya tadi malam ada 4 tapi satu sudah dirujuk ke PKU Muhammadiyah," ujar Wahyudi.

Terkait penanganan pasien Corona bergejala berat, Wahyudi mengaku mengalami keterbatasan. Pasalnya, fasilitas di shelter kalurahan tidak selengkap di RS rujukan Corona.

"Kita menyadari keterbatasan itu tapi ada nakes di Puskesmas Sewon 1 dan Puskesmas Sewon 2 yang selalu standby. Selain itu akses obat ada, meski sebatas untuk mengatasi gejalanya saja sembari menunggu ada kamar kosong di rumah sakit rujukan," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul menyebut dalam sehari kasus baru positif Corona di wilayahnya mencapai angka ribuan. Hal itu membuat tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) pasien Corona mencapai 97% dan untuk bed critical penuh.

"Kalau BOR dikatakan kita sudah penuh terus setiap hari karena keluar masuk ya. Tapi kalau dikatakan tempat tidur yang melakukan perawatan kita penuh dan tempat pelayanan memang sudah penuh," kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul, Sapta Adisuka Mulyatno, saat ditemui di Kantor Dinkes Bantul, Rabu (21/7).

Sapta menyebut BOR Corona di Bantul secara persentase melebihi 95%. Sedangkan untuk critical bed atau perawatan intensif sudah tidak ada lagi yang kosong.

"Ya 96-97 persen, itu dari total sekitar 325 bed untuk yang isolasi saja. Nah, untuk yang perawatan intensif atau critical ada 39 bed, dan posisinya sekarang terpakai semua," ujarnya.

Oleh sebab itu, Sapta terus melakukan pemantauan di shelter kalurahan, shelter kabupaten, rumah sakit lapangan hingga rumah sakit rujukan Corona di Bantul. Sapta membuat sistem berjenjang agar pasien COVID-19 yang membutuhkan penanganan bisa mendapatkan pelayanan sesuai kondisinya.

"Tapi sebisa mungkin kita tidak boleh pasrah. Kita buat sistem shelter kalurahan, shelter kabupaten, rumah sakit lapangan hingga rumah sakit rujukan, itu berjenjang," ujarnya.

"Jadi seandainya dari rumah sakit rujukan tadi kondisi sudah membaik, meskipun masa isolasi belum selesai kita turunkan ke shelter, sehingga yang butuhkan rumah sakit rujukan bisa segera masuk. Itu yang kita lakukan terus saat ini," lanjut Sapta.

(rih/ams)