Kisah Perantau Pulang Kampung, Raih Cuan dari Lobster Air Tawar

Robby Bernardi - detikNews
Selasa, 20 Jul 2021 21:13 WIB
Budi daya lobster air tawar di Kabupaten Pekalongan, Selasa (20/7/2021).
Budidaya lobster air tawar di Kabupaten Pekalongan, Selasa (20/7/2021). (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Kabupaten Pekalongan -

Pandemi Corona atau COVID-19 berdampak pada sebagian perantau yang terpaksa pulang kampung karena kehilangan pekerjaan. Salah seorang di antaranya Bayu Firmansyah (28) yang memilih pulang ke kampung halamannya Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah setelah usahanya di Jakarta ambruk karena pandemi.

Setelah pulang ke Pekalongan setahun yang lalu, Bayu putar otak, untuk menjalankan usaha lainnya. Akhirnya ia memilih bidang budidaya lobster tawar.

Awalnya buta soal lobster, Bayu berbekal semangat dan niat untuk mulai belajar budidaya lobster air tawar hanya lewat YouTube.

"Awalnya saya itu usaha dagang sembako di Jakarta. Mulai pendemi (Corona), usaha menjadi sepi. Karena sepi, saya pikir-pikir pulang kampung saja. Di desa bingung mau usaha apa, sebelum akhirnya menemukan ide ke lobster ini," kata Bayu saat ditemui detikcom di rumahnya, Kecamatan Sragi, Selasa (20/7/2021).

Dia mengaku sempat setengah hati karena keterbatasan pengalaman. Namun akhirnya dia bisa memahami dasar budidaya lobster, diantaranya tak memerlukan lahan yang luas untuk tambak.

Dengan uang tabunganya sebesar Rp 1 juta, Bayu mengaku bisa memulai membangun usaha lobster tawar jenis red claw. Bukan membuat tambak, Bayu membuat kolam kecil berukuran 2x3 meter di dalam rumahnya.

Dia juga membuat kolam berukuran kecil untuk memisahkan indukan yang bertelur. Sekali bertelur, menurutnya lobster air tawar bisa menghasilkan 240-600 telur dengan persentase menetas sekitar 70 persen. Awalnya, ia hanya membeli indukan tiga set sekitar tiga puluh ekor lobster. Indukan yang bertelur akan dipisahkan di kolam lain.


"Perawatan tidak sulit, kita pakai air sumur/tawar. Untuk pakannya sendiri kita maksimalkan sumber alam di sini yang ada, seperti cacing tanah, keong sawah, toge atau pelet udang. Tidak sesulit yang kita bayangkan," ucapnya.

"Per tiga minggu kita sortir. Kalau sudah bertelur, kita pisah. Untuk per satu induk bisa bertelur 250 sampai 600 telur. Itu pun hanya 70 persen menetas, selama satu bulan," jelasnya.

Secara pasar, Bayu bercerita ada permintaan lobster berusia 3 bulan untuk dibudidayakan lagi. Sedangkan lobster berusia 6-8 bulan biasanya dibeli oleh rumah makan. Dia menjual lobster air tawarnya secara online.

"Ya karena masih jarang di pasaran ada lobster tawar ya, jadi banyak peminatnya. Kita kirim di wilayah Jateng, bahkan ke Jakarta," imbuhnya.

Lihat juga video 'Kisah Pria di Pinrang, Nekat Pulang Kampung Naik Sampan ke Buton Sultra':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikutnya...

Selanjutnya
Halaman
1 2