Nilai Tinggi Toleransi di Balik Kurban Kerbau Saat Idul Adha di Kudus

Dian Utoro Aji - detikNews
Selasa, 20 Jul 2021 12:58 WIB
Kurban kerbau saat Idul Adha di Kudus, Selasa (20/7/2021).
Kurban kerbau saat Idul Adha di Kudus, Selasa (20/7/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Nilai toleransi di balik kurban hewan kerbau di Kudus, Jawa Tengah masih lestari hingga saat ini. Tak menyembelih sapi saat Idul Adha di Kudus mengandung sejarah panjang untuk menghargai umat Hindu.

"Salah satunya filosofi dari Kanjeng Sunan Kudus yang bagaimana bisa saling menghargai umat beragama. Salah satunya karena kalau kerbau tidak ada ketersinggungan dari pihak manapun. Kalau sapi itu kan memang sudah dikeramatkan kaum Hindu. Maka dari itu umat islam bisa menghargai umat Hindu," kata Bupati Kudus HM Hartopo kepada wartawan usai menyerahkan hewan kurban kerbau di Masjid Agung Kudus, Selasa (20/7/2021).

"Walaupun sapi itu untuk sah dan halal untuk dikurbankan. Untuk di Kudus ini bagaimana saling menghargai," sambung dia.

Hartopo mengatakan momen hari raya Idul Adha tahun ini sebagai pembelajaran karena berlangsung di masa PPKM Darurat. Dia pun mengajak masyarakat agar bersama-sama menurunkan penyebaran virus Corona atau COVID-19 di Kudus.

"Harapannya ada hikmahnya kurban tahun kemarin yang saat ini keterbatasan dan diatur sangat ketat, bahkan untuk salat idul adha tidak boleh dilaksanakan di masjid dan di lapangan untuk imbauan dari Menteri Agama. Harapan kami ini menjadi pembelajaran kita barang kali dan kesadaran bersama, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa dilaksanakan dengan normal seperti biasa. Bagaimana masyarakat kita bersama-sama menurunkan angka COVID-19 di Kudus supaya menjadi zona hijau," urai dia.

"Ke depan supaya bisa dilakukan secara normal kembali, Idul Adha bisa di lapangan di masjid," lanjut Hartopo.

Terkait masyarakat yang masih menggelar salat Idul Adha di masjid dan lapangan, Hartopo menjelaskan pemkab sudah memberikan imbauan ke setiap desa di Kudus. Namun menurutnya masih banyak yang tetap melaksanakan salat Idul Adha.

"Sebetulnya saya bersama forkompinda ya sudah capai, sudah kita memerintahkan sampai ke desa, bagaimana supaya melobi semua takmir masjid. Kalau sudah dilobi terus masih ada ya bagaimana kita tidak boleh anarkis," jelas dia.

Dia menambahkan bagi masyarakat yang tetap menggelar salat Id di masjid atau lapangan terpenting adalah menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Maka dari itu intinya sudah mengimbau, kalau memang bukan kewajiban dan sanksi hukumnya jadi kita sendiri ya sudah tetap dilaksanakan, yang penting ada prokes memang betul ketat dan ada satgas di sana," tambah Hartopo.

(sip/sip)