Situasi Darurat, 250 Tabung Oksigen RS PKU Yogya Malah Ditarik Vendor

Heri Susanto - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 21:25 WIB
Para pedagang oksigen medis terlihat kewalahan melayani permintaan, di Pucang Sawit, Solo, Jawa Tengah, Rabu (30/6).
Ilustrasi tabung oksigen (Foto: Agung Mardika/detikcom)
Yogyakarta -

Di tengah kondisi rumah sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mengalami krisis oksigen, Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Yogyakarta harus mencari pengganti 250 tabung oksigen yang mereka sewa dari sebuah vendor. Penyebabnya, ratusan tabung oksigen itu malah ditarik oleh pihak vendor.

Ketua Tim Penanganan COVID-19 Muhammadiyah, dr Rintawan Corona, mengakui ada penarikan 250 tabung oksigen dari salah satu vendor penyedia oksigen. Rekanan tersebut menarik tabung karena RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dianggap menyalahi kesepakatan karena 250 tabung tersebut diisi ulang ke pihak lain. Namun, hal itu bukan tanpa alasan, karena saat itu kondisi darurat demi keselamatan pasien.

"Karena situasi darurat, manajemen PKU Yogya berpikir memprioritaskan keselamatan pasien. Tapi ternyata manajemen vendor penyedia itu tetap tidak mau tahu," kata Corona, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (13/7/2021).

Ia menjelaskan, penarikan itu terjadi pada 4 Juli lalu, saat kondisi oksigen di PKU Muhammadiyah Yogyakarta menipis. Saat itu, pasokan oksigen liquid tidak jelas. Akhirnya, manajemen rumah sakit mengambil langkah menyelamatkan pasien dengan mengisi tabung kosong yang dimiliki dengan oksigen dari vendor lain.

"Yang narik itu semacam reseller. Jadi bukan vendor utama pemasok oksigen untuk PKU Muhammadiyah Yogya," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Muhammad Komarudin mengatakan, pihaknya dengan kondisi kebutuhan oksigen yang terus meningkat saat ini, sebenarnya masih sangat membutuhkan bantuan dari vendor yang menarik tabung oksigen tersebut.

"Sekarang ya pengadaan tabung. Meski harganya sudah naik, kami akan berusaha untuk bisa menutup kekurangan 250 tabung untuk backup liquid," kata Komarudin dihubungi terpisah, hari ini.

Komarudin menyebutkan saat ini pihaknya melakukan pengadaan tabung secara mandiri sejumlah 150 tabung oksigen meski harga di pasaran sudah naik.

"Kami lakukan pengadaan. Kami sudah beli 150 tabung dengan harga Rp 2,6 juta naik dari harga di waktu normal Rp 2 jutaan. Sekarang sudah mengisi oksigen agar tidak terjadi kekosongan oksigen," katanya.

Ia menambahkan, 150 tabung tersebut hanya untuk cadangan saja. Nantinya, jika terjadi kekosongan sentral liquid oksigen, 150 tabung ini mampu untuk bertahan dari kekosongan selama sekitar 6 jam.

Simak video 'Berburu Oksigen Lintas Wilayah, Demi Membantu Warga Isoman':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/mbr)