Palsukan Nilai di Ijazah 10 Murid, Staf Sekolah di Sleman Ditangkap!

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 16:18 WIB
A Happy Little Asian boy holding pencil while reading on notebook homework with smiling face on wooden table.Back to School concept.
Ilustrasi anak sekolah. (Foto: Thinkstock)
Sleman -

Seorang oknum staf sekolah swasta 'Y' di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ditangkap polisi dalam kasus pemalsuan nilai mata pelajaran pada ijazah murid. Diketahui, staf itu merupakan seorang pria berinisial S (40) warga Klaten, Jawa Tengah.

S ditangkap karena melakukan pemalsuan nilai untuk 2 mata pelajaran yakni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Padahal, 2 mata pelajaran itu sebelumnya tak pernah diajarkan ke siswa.

"S ini selaku staf keuangan dan punya peran penting dalam operasional sekolah 'Y'. Ia meminta saksi yakni inisial A untuk memasukkan nilai mata pelajaran Agama dan pelajaran Pancasila ke ijazah dengan nilai 75," kata Kanit Reskrim Polsek Mlati Iptu Dwi Noor Cahyanto kepada wartawan, Kamis (24/6/2021).

Dwi menjelaskan kasus ini mulai mencuat saat salah seorang wali murid berinisial EH warga Bandung, Jawa Barat, menyekolahkan anaknya sejak jenjang SD di sekolah 'Y' pada 2013. Kemudian setelah lulus pada 2016 melanjutkan jenjang SMP di sekolah yang sama.

Diketahui di sekolah 'Y' memang memiliki program pendidikan dari sekolah dasar hingga menengah atas.

"Pada awal 2017, EH menanyakan ijazah SD anaknya ke pihak sekolah. Baru pada April 2018 anaknya baru bisa menerima ijazah SD," katanya.

Dalam ijazah itu, tercantum data berbagai nilai mata pelajaran. Termasuk nilai mata pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan serta mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

"Padahal dua mata pelajaran itu tidak pernah diajarkan ke anaknya yang lulus SD pada tahun ajaran 2015/2016," ungkapnya.

Atas kasus itu, EH melapor ke Polsek Mlati. Polisi baru menetapkan tersangka pada April 2021 lalu.

"Kejadian diketahui pada 16 April 2018. Kemudian pada 26 April 2021, S ditetapkan tersangka dan pada 4 Mei 2021 kami panggil," urainya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka, tindak pemalsuan nilai ijazah ini dilakukan bukan hanya terhadap 1 siswa.

"Diduga tidak lebih dari 10 (orang) di satu angkatan," bebernya.

Akibat pemalsuan nilai ini, korban bukan hanya menderita kerugian materi. Namun juga mengalami ketakutan jika nilai palsu dua mata pelajaran itu diketahui orang lain.

"Korban tidak percaya diri melanjutkan ke sekolah negeri karena tidak memiliki dasar di dua mapel itu. Kemudian takut jika nilai itu diketahui orang lain," ungkapnya.

Atas perkara ini, polisi menjerat S dengan pasal 266 ayat 1 KUHP dengan ancaman pidana 6 tahun. Sementara barang bukti yang disita berupa dokumen ijazah SD dan dokumen administrasi lainnya.

Lihat juga video 'Nyaleg Pakai Ijazah Palsu, Anggota DPRD Probolinggo jadi Tersangka':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/ams)