Round-Up

Jurus Ganjar-Gibran Setelah 8 Daerah di Jawa Tengah Jadi Zona Merah

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 08:23 WIB
Poster
(Foto: Edi Wahyono)
Semarang -

Menyusul Kudus, sejumlah daerah di Jawa Tengah kini juga berstatus zona merah Corona. Delapan daerah tersebut adalah Kabupaten Kudus, Demak, Pati, Jepara, Tegal, Brebes, Grobogan, dan Sragen. Bagaimana para pimpinan daerah menyikapi?

"Sragen dan Wonogiri bolak-balik, kemarin Sragen sempat oranye dan Wonogiri merah, tapi saya belum tahu perkembangan terakhir," kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Rabu (16/6).

Meski demikian, Ganjar enggan menetapkan status siaga. Alasannya, saat ini Jawa Tengah masih menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

"Tidak perlu status siaga, wong sudah ada aturan PPKM-nya kok. Tinggal kalau sudah terjadi penyebaran COVID-19 masyarakatnya tinggal lockdown mikro, lockdown mikro," ujarnya.

Dia meminta kepala daerah untuk kompak bersama-sama menekan angka kasus COVID-19.

"Ada yang jemput usai dari Kudus positif, entah ada hubungannya atau tapi itu memper (pantas diduga). Di Sragen ibadah di rumah, acara keramaian dikurangi tapi sekali lagi antarkabupaten harus kompak," kata Ganjar.

"Jangan di sini nutup pariwisata di sana buka, ini nanti dolan kesana, penyebaran bisa berlanjut. Alhamdulillah rekan rekan bupati dan wali kota sudah oke, maka saya keluarkan PPKM yang lebih ketat," sambungnya.

Ganjar menyebut saat ini telah memiliki pusat karantina Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Namun dia meminta masing-masing daerah agar menyiapkan tempat isolasi terpusat.

Gibran wajibkan pendatang diswab

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, mengajak masyarakat semakin waspada dengan lonjakan kasus di berbagai daerah. Dia kembali melakukan pengetatan di wilayah Solo, salah satunya memberlakukan wajib swab bagi pendatang.

"Dari zona merah wajib swab. Ada yang mau hajatan, perjalanan dinas ditunda dulu, mohon maaf, (penularan Corona di) Wonogiri, Sragen itu kan karena hajatan di Kudus. Makanya tolong dikurangi dulu lah kegiatan-kegiatan semacam itu. Kita ini kan sudah cukup baik, terkendali, vaksinasi cepat. Event-event kita tahan juga," kata Gibran di Balai Kota Solo, Rabu (16/6).

Kepala Satpol PP Solo, Arif Darmawan, menjelaskan kewajiban menunjukkan hasil swab tersebut sudah diatur dalam Surat Edaran (SE) Wali Kota Solo Nomor 067/1869. Aturan tertulis pada poin Pelaksanaan nomor 7z yang isinya:

Setiap individu pelaku perjalanan lintas kota/kabupaten/provinsi menginap di Kota Solo, wajib membawa hasil uji negatif swab PCR atau swab antigen paling lama 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam, saat masuk hotel/losmen/guest house/sebutan lainnya atau diperiksa Satgas Jogo Tonggo.

"Intinya aturan hanya diterapkan pada pendatang yang menginap, baik di penginapan atau di rumah," kata Arif saat dihubungi detikcom, Rabu (16/6).

Mengenai pengawasan, Arif mengatakan setiap penginapan harus memiliki prosedur yang ketat. Tamu yang menginap harus membawa surat hasil tes swab antigen atau PCR.

"Untuk pendatang yang menginap di rumah warga, maka Satgas Jogo Tonggo yang akan aktif. Kalau ada yang ditemukan, akan kita swab. Kalau positif ya kita karantina atau masuk rumah sakit kalau bergejala," ujar dia.

Sedangkan bagi warga sekitar Solo yang bekerja di Kota Solo, tidak diwajibkan memiliki surat hasil tes swab. Namun petugas akan aktif melakukan tes swab secara acak di titik-titik tertentu.

"Kita akan lakukan tes swab acak di titik-titik tertentu. Misalnya di Pasar Klewer, kemarin ada warga luar kota yang ternyata positif. Ini akan kita masifkan ke titik-titik yang lain," terang Arif.

Simak video 'Corona Membandel, Pembatasan di RI Bakal Diperketat Lagi?':

[Gambas:Video 20detik]



(bai/mbr)