Gara-gara Video Porno, 3 Bocah di Tegal Sodomi Teman-teman Sepermainan

Imam Suripto - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 15:32 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi pencabulan anak. (Foto: Andhika Akbarayansyah)
Kota Tegal -

Lima bocah di Kota Tegal, Jawa Tengah menjadi korban sodomi oleh tiga teman sepermainannya sendiri. Polisi menyebut peristiwa itu terjadi karena para pelaku terbiasa menonton video porno.

"Pelaku dan korban berstatus pelajar. Mereka merupakan teman sepermainan di kampungnya," kata Kapolres Tegal Kota AKBP Rita Wulandari Wibowo kepada wartawan di kantornya, Kamis (10/6/2021).

Rita mengungkap tiga orang pelaku masing-masing dua orang berusia 14 tahun dan seorang berusia 12 tahun. Sedangkan lima orang korbannya berusia antara 7 hingga 10 tahun.

"Perbuatan ini akibat pelaku kerap menyaksikan konten pornografi sesama jenis melalui handphone tanpa pengawasan orangtua," lanjut Rita.

Pencabulan Terjadi Sejak 2019

Kasus pencabulan ini terjadi sejak tahun 2019. Para pelaku beraksi di beberapa lokasi berbeda di antaranya di kamar mandi musala, warung, hingga pos kamling.

Dalam aksinya, tiga bocah pelaku ini membujuk hingga mengancam korban agar mau menuruti kemauannya.

"Dari tempat-tempat yang kita sebutkan tadi, dengan estimasi waktu yang terjadi pada sore hari, siang hari dan malam hari. Modusnya dengan bujuk rayu dan ancaman kekerasan," kata dia.

Kasus ini akhirnya terungkap setelah seorang warga yang memergoki aksi pencabulan itu melapor ke polisi. Berdasarkan laporan saksi dan orang tua korban, polisi melakukan pengembangan penyelidikan.

Para pelaku dijerat pasal 82 ayat (1) Jo pasal 76 E UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang.

"Karena ini usianya 12 tahun lebih 9 bulan sehingga kita tidak bisa lakukan itu (pengambilan keputusan ditingkat penyidikan). Dan kita tidak bisa melakukan diversi karena sesuai ketentuan pasal 7 Undang-Undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak, bahwa ancaman pidananya di atas 7 tahun," urai Rita.

(sip/mbr)