Ganjar Ungkap Perjuangan Bujuk Pasien Corona Kudus Dievakuasi ke Donohudan

Ragil Ajiyanto - detikNews
Rabu, 09 Jun 2021 19:52 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di lokasi isolasi terpusat pasien Corona asal Kudus di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Rabu (9/6/2021).
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di lokasi isolasi terpusat pasien Corona asal Kudus di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Rabu (9/6/2021). Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom
Boyolali -

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan perjuangan petugas membujuk pasien Corona di Kudus yang menjalani isolasi mandiri untuk dievakuasi di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Pasalnya, tidak semua mau dan bahkan ada yang marah.

Ganjar Pranowo mengatakan, masih banyak warga Kudus penderita Corona yang akan dibawa ke lokasi karantina terpusat Pemprov Jateng di Asrama Haji Donohudan. Namun evakuasi pasien tersebut dilakukan secara bertahap.

"Masih banyak (yang akan dievakuasi ke Donohudan) dan ini kita bertahap, sampai kita merayu-rayu, ada yang tidak mau, ada yang marah semuanya," kata Ganjar kepada wartawan usai menyapa para pasien COVID-19 di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Rabu (9/6/2021).

"Tapi kalau dengan seperti ini dan tadi bisa ketawa-ketawa kan enak ya. Sambil keluarlah dari Kudus, ya rada piknik sithik (agak piknik tipis-tipis) gitu sampai ke sini ketemu dengan saudara-saudaranya dan mudah-mudahan itu nanti yang menginspirasi yang lain untuk isolasi terpusat," sambungnya.

Maka, pihaknya pun mengucapkan terima kasih kepada warga yang mau dievakuasi dari semula menjalani isolasi mandiri di rumah, untuk mengikuti karantina terpusat di Asrama Haji Donohudan ini.

"Saya terima kasih atas partisipasi masyarakat, terutama yang dari luar area ini. Ada yang dari sekitar Solo Raya, ada yang dari Kudus berkenan ke sini (Asrama Haji Donohudan)," ucap Ganjar.

Tindakan mau karantina secara terpusat ini, menurut Ganjar, akan sangat membantu membuat tindakan, treatment dan perlakuan. Isolasi terpusat juga akan menekan penyebaran virus Corona di masyarakat.

"Kalau di sini (asrama haji) tidak akan menular kepada yang lain. Dalam praktiknya isolasi mandiri itu kalau di rumah, akan membahayakan. Apalagi kalau kontrolnya tidak ketat. Maka ketika mereka berkenan semuanya untuk bisa masuk ke sini, tentu ini sangat membantu dalam melakukan sebuah tindakan yang responsif pada kondisi pandemi ini," jelasnya.

Pihaknya berharap, setiap kabupaten dan kota di Jateng juga punya isolasi terpusat. Sehingga pasien Corona akan bisa terkontrol dengan baik.

Menurut Ganjar, isolasi terpusat lebih efektif dalam menekan penyebaran virus Corona. Pasalnya, di karantina terpusat semua terkontrol. Sebaliknya, jika isolasi mandiri di rumahnya masing-masing maka akan sulit dikendalikan.

"Menurut saya iya (lebih efektif). Karena di sini terkontrol semua. Makannya terkontrol, dikasih hiburan, dari kesehatannya iya, lokasinya juga steril. Orang nggak keluar masuk to. Mereka betul-betul istirahat penuh dan kalau terjadi gejala-gejala langsung direspons dibawa ke rumah sakit dan sudah ada 12 tadi dibawa ke rumah sakit. Jadi itu respons yang cepat," imbuh dia.

(rih/mbr)