Pasien Corona di Bantul Dimakamkan Tanpa Prokes Gegara Keluarga Bohong

Pradito Rida Pertana - detikNews
Jumat, 04 Jun 2021 14:03 WIB
Panewu (Camat) Srandakan Anton Yulianto
Panewu (Camat) Srandakan Anton Yulianto (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Satu keluarga di RT 114 Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul berbohong soal status salah satu anggota keluarganya yang meninggal suspek virus Corona (COVID-19). Alhasil pemakaman jenazah dilakukan tanpa protokol kesehatan dan 28 orang yang mengikuti pemakaman itu dites swab PCR.

Kejadian itu berawal saat salah seorang warganya pria berusia 52 tahun meninggal pada Minggu (23/5) malam. Kemudian yang bersangkutan dimakamkan pada Senin (24/5).

"Tapi kok berita jam 5 meninggal sampai di sini kok jam setengah 11 malam jenazahnya," cerita Ketua RT 114 Kampung Mayongan, Kalurahan Trimurti, Fajar Zainudin saat ditemui di Kampung Mayongan, Jumat (4/6/2021).

Fajar mengaku sempat menanyakan kepada keluarga apakah pria tersebut meninggal dengan status positif COVID-19. Namun, pihak keluarga tidak menjelaskan kondisi jenazah secara detail sehingga akhirnya warga turut membantu pemulasaraan jenazah tanpa protokol COVID-19.

"Dan sampai sini nggak bilang kondisinya. Sebelum kami menyiarkan di masjid itu kami informasi ke pihak keluarga dulu ini pakai prokes (COVID-19) tidak, katanya tidak (pakai prokes) baru kita siarkan ke masjid," ucapnya.

Fajar mengatakan ketika memandikan jenazah, dia mendapati tubuh jenazah dibungkus plastik. Setelah selesai dimandikan, jenazah disemayamkan dan baru dikuburkan pada Senin (24/5).

"Kita mandikan seperti biasa, cuma dari rumah sakit itu sudah pakai plastik. Terus di situ karena kita tidak tahu dan kita mandikan seperti biasa. Baru hari Senin, 24 Mei baru dimakamkan dengan posisi jenazah ditaruh di tanah (tidak pakai peti)," ujarnya.

Almarhum Dinyatakan Positif Corona

Selang 5 hari setelah meninggalnya pria 52 tahun itu, Fajar mendapatkan kabar dari Puskesmas Srandakan jika almarhum meninggal dengan status positif COVID-19. Hal itu membuat Fajar dan masyarakat yang ikut memakamkan jenazah kaget.

"Saya diberi info puskesmas bahwa yang bersangkutan meninggal karena COVID-19 adalah 5 hari setelah penguburan. Secara waktu sudah terlalu lama karena meninggal tanggal 23 Mei dan baru diketahui tanggal 28 (Mei) malam," ucapnya.

Fajar lalu meminta keluarga untuk memberikan keterangan. Dari situlah, muncul pengakuan lamanya jenazah tiba di rumah duka karena ada ada perdebatan dengan pihak rumah sakit soal kondisi almarhum.

"Kalau pihak rumah sakit itu walaupun hasil belum keluar almarhum sudah suspek, tetapi pihak keluarga terutama istri tidak terima, artinya belum keluar hasilnya," katanya.

"Pihak rumah sakit meminta pemakaman prokes, tapi pihak keluarga memaksa. Jadi dari pihak rumah sakit tidak bisa mengeluarkan ambulans untuk membawa jenazah dan pihak keluarga alternatif mencari ambulans sendiri. Barulah ambulans bisa membawa pulang jam 11 (malam)," lanjut Fajar.

Dia pun menyayangkan tidak terbukanya pihak keluarga dari almarhum. Mengingat banyak warga yang terlibat dalam pemakaman tersebut.

"Kenapa sampai begini bisa saya bilang kita dibohongi keluarga, mereka kurang jujur," sesalnya.

5 Keluarga Almarhum Positif Corona

Fajar menambahkan, usai kejadian itu beberapa warga telah di-tracing dan menjalani tes swab. Dia menyebut ada beberapa keluarga almarhum yang akhirnya dinyatakan positif COVID-19.

"Hari ini 13 orang diswab. Pertama 8, terus 1 terus 6 dan hari ini 13 orang, jadi total ada 28 orang. Hasilnya swab pertama 5 yang positif itu keluar, 5 orang itu istri, anak, menantu, cucu dan kakak keluarga inti (jenazah meninggal berstatus positif COVID-19)," katanya.

Selengkapnya kata Pandewu Srandakan soal pemakaman warganya tanpa prokes di halaman selanjutnya..