Warga Bantul yang Ikut Pemakaman Corona Tanpa Prokes Emoh Dites Swab

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 16:00 WIB
Panewu (Camat) Srandakan Bantul, Anton Yulianto, Kamis (3/6/2021).
Panewu (Camat) Srandakan Bantul, Anton Yulianto, Kamis (3/6/2021). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta gagal melaksanakan tes swab terhadap warga dan keluarga yang menghadiri pemakaman pasien Corona atau COVID-19 tanpa protokol kesehatan di Pedukuhan Lopati, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, hari ini. Hal ini karena warga belum mau menjalani tes swab tersebut.

"Sampai hari ini tadi kita sudah berusaha melakukan pendekatan kepada warga yang terlibat dalam permakaman untuk bersedia menjalani uji swab (PCR). Tapi belum ada titik temu atau warga belum bersedia untuk diuji swab," kata Panewu (Camat) Srandakan Anton Yulianto saat ditemui di Kantor Kecamatan Srandakan, Kamis (3/6/2021).

Kendati demikian, Anton tetap memastikan bahwa uji swab ini tetap berlangsung pekan ini. Pasalnya menurut pertimbangan medis, hasil uji swab lebih efektif jika ada tenggat waktu 5 hari dari hari kejadian yakni Selasa (1/6).

"Jadi kalau lima hari dihitung dari H (waktu pemakaman) maka uji swab masal dilakukan hari Sabtu (5/6)," ucapnya.

Terkait teknis swab tersebut, Anton mengaku akan menerapkan sistem jemput bola. Di mana petugas medis akan langsung datang ke Pedukuhan Lopati.

"Pelaksanaan uji swab tidak di puskesmas tapi nanti petugas yang akan langsung datang ke Lopati. Jadi warga yang namanya masuk tracing kontak erat tinggal datang dan akan langsung diswab oleh petugas," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Lurah Trimuti Agus Purwaka menyebut hingga saat ini pihaknya masih melakukan tracing kepada warga yang kontak erat baik dengan pasien positif COVID-19 maupun yang hadir dalam pemakaman kemarin Selasa (1/6). Menurutnya, ada puluhan orang yang rencananya menjalani swab massal.

"Jadi hasil tracing kontak erat untuk sementara mencapai 27 orang dan jumlah tersebut hanya sebagian dari warga yang turut hadir dalam pemakaman," ucapnya.

Sebelumnya, Bupati Kabupaten Bantul Abdul Halim Muslih menyayangkan masyarakat di Pedukuhan Lopati yang tidak taat pada prokes saat pemakaman jenazah berstatus positif COVID-19. Dia berharap kejadian serupa tidak terulang lagi.

"Mestinya karena sudah dinyatakan bahwa pasien yang meninggal itu terpapar COVID-19 ya mestinya dikubur dengan protokol COVID-19, tetapi warga malah menolak," ujarnya.

"Nah, penolakan itu tidak beralasan maka ini diperlukan edukasi dan penyadaran masyarakat bahwa kita tidak boleh main-main dengan COVID-19 ini," imbuhnya.

(sip/ams)