Warung Lele Malioboro yang Viral 'Nuthuk' Ternyata Pedagang Baru

Heri Susanto - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 17:41 WIB
Suasana Malioboro yang mulai hari ini melakukan uji coba bebas kendaraan bermotor, Selasa (3/11/2020).
Suasana Jalan Malioboro Yogyakarta. Foto diambil pada Selasa (3/11/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Penjual pecel lele Malioboro, Yogyakarta, yang viral mematok harga di luar kewajaran alias 'nuthuk' harga akhirnya terungkap. Ketua Forum Komunikasi dan Koordinasi Perwakilan (FKKP), Adi Kusuma, mengungkap warung yang viral itu merupakan pedagang baru.

"Oknum tersebut ternyata adalah pemilik baru dari pemilik lama yang baru dialihkan antara dua bulan yang lalu. Karena pemilik lama yang jatuh perekonomiannya dikarenakan dampak COVID-19," kata Adi kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Kamis (27/5/2021).

Adi mengungkap pihaknya akan mendata ulang para pedagang yang berjualan di Jalan Perwakilan, Yogyakarta.

"Dan kami akan adakan penyuluhan ketertiban untuk semua pedagang ada di Jalan Perwakilan," lanjut dia.

Menurutnya, video viral nuthuk harga ini menjadi pelajaran besar untuk para pedagang.

"Kami berharap untuk ke depan menjadi acuan kami untuk menjadi lebih baik dalam mengatur, menata, dan mengayomi demi Yogya Istimewa untuk semua," urai Adi.

Sebelumnya, Mantri Pamong Praja Kemantren Danurejan, Bambang Endro Wibowo, juga menjelaskan lokasi tempat makan yang viral itu tidak termasuk PKL. Sebab, berada di dalam pertokoan.

Lokasi tepatnya yakni pertokoan di selatan kantor DPRD DIY, Jalan Perwakilan atau sirip Malioboro, Yogyakarta.

Soal Ancaman Sanksi Cabut Izin

Bambang menjelaskan, dengan berada di persil pribadi, otomatis ancaman pencabutan izin tak bisa dilakukan. Hal tersebut menjadi ranah dari Dinas Pariwisata (Dispar) untuk melakukan pembinaan.

"Kalau restoran atau rumah makan, pembinaan di Dispar. Karena mereka termasuk penyelenggara pariwisata," jelasnya.

Ia menegaskan untuk kategori PKL adalah pedagang yang biasanya menempati trotoar atau tanah negara. Mereka harus mengantongi izin dari kemantren atau kecamatan.

"Tapi kalau persil pribadi, perizinannya sama seperti dengan yang lain. Biasa harus menempuh perizinan OSS (One Single Submission) yang menjadi ranah pemerintah pusat," jelasnya.

Simak video 'Heboh Pecel Lele Mahal, Pemkot Yogya Akan Sanksi PKL yang 'Nuthuk' Harga':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/rih)