Ini Dia Alasan Hakim PN Wates Kabulkan Transgender Jadi Laki-laki

Jalu Rahman Dewantara - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 16:27 WIB
ilustrasi jenis kelamin
Ilustrasi gender (Foto: thinkstock)
Kulon Progo -

Pengadilan Negeri (PN) Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengabulkan permohonan ubah gender seorang perempuan menjadi laki-laki, karena memiliki orientasi seksual berubah. Bagaimana kisahnya?

Mata Edy Sameaputty menerawang. Pikirannya kembali ke beberapa bulan lalu, tepatnya pada Februari 2021. Ketika itu PN Wates, tempatnya berdinas, menerima permohonan perkara ubah jenis kelamin dari seorang perempuan menjadi laki-laki. Pemohon berinisial RS, 31, diketahui merupakan warga Kalurahan Bojong, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo.

"Jadi kalau dari registernya itu (permohonan) diregistrasi pada 24 Februari 2021 no 9/pdt.p/2021 di PN Wates. Permohonan ini diajukan oleh kuasa hukumnya langsung atas nama C. Jati Utomo Setiawan S.H. Advokat dan konsultan hukum beralamat di Jl Letjend Suprapto, no 35, Yogyakarta," kata Edy saat ditemui di PN Wates, Senin (17/5/2021).

Edy menjelaskan setelah permohonan diterima, pihaknya kemudian menetapkan jadwal sidang. Persidangan perkara ini hanya dilakukan dua kali dan seluruhnya berlangsung secara daring. Sidang pertama yakni pembacaan permohonan dilanjutkan pembuktian. Kedua dan terakhir pembacaan penetapan. Selama proses tersebut RS diwakilkan oleh kuasa hukumnya.

"Seingat saya mekanisme itu pengajuan permohonan menggunakan e-litigasi karena kebetulan kuasa hukum ini advokat jadi memiliki akun untuk mendaftarkan secara e-court (persidangan on-line). Jadi dia nggak perlu datang ke sini, dan sayalah yang ditetapkan sebagai hakim pemeriksa perkara tersebut," sambungnya.

Hakim PN Wates, Edy Sameaputty.Hakim PN Wates, Edy Sameaputty. Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom

Hasil akhirnya, Edy yang bertindak sebagai hakim tunggal atas perkara tersebut mengabulkan permohonan RS. Dilanjutkan keluarnya putusan No 9/Pdt.P/2021/PN Wates tertanggal 15 Maret 2021.

Pria yang juga menjadi Humas PN Wates, itu enggan berkomentar banyak terkait alasannya mengabulkan permohonan RS. Meski begitu ia mempersilakan wartawan mengutip pertimbangan putusannya yang tertuang dalam putusan PN Wates yang bisa diakses di website mahkamahagung.go.id.

Dalam pertimbangannya, Edy mengutip Yogyakarta Principles (Prinsip-Prinsip Yogyakarta). Yaitu sebuah hasil pertemuan 29 ahli Hak Asasi Manusia (HAM) internasional yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada 6-9 November 2006. Mereka sepakat mengadopsi Yogyakarta Principles/Prinsip-Prinsip Yogyakarta tentang Undang-Undang HAM Internasional Terkait dengan Orientasi Seksual dan Identitas Gender.

Prinsip pertama dari Prinsip-Prinsip Yogyakarta tentang hak atas penikmatan HAM secara universal menyebutkan bahwa setiap manusia dilahirkan bebas dan setara dalam hal martabat dan hak.

Setiap manusia dengan orientasi seksual dan identitas gender mereka berhak menikmati semua hak asasi mereka. Selanjutnya di dalam prinsip ketiga dari Prinsip-Prinsip Yogyakarta a quo tentang Hak untuk diakui di mata hukum disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang manusia di hadapan hukum.

"Orang yang memiliki orientasi seksual dan identitas gender berbeda juga harus dapat menikmati kapasitas hukum mereka dalam berbagai aspek kehidupan," ujar Edy dalam putusannya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...

Simak juga Video: Kemendagri Mudahkan Transgender Dapatkan Dokumen Kependudukan

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4