Berkunjung ke Masjid Kuno Klaten Hadiah PB X pada Tabib Kerajaan

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 18 Apr 2021 15:40 WIB
Masjid Muslimin Giri Purno hadiah PB X pada tabib kerajaan, Minggu (18/4/2021).
Masjid Muslimin Giri Purno hadiah PB X pada tabib kerajaan, Minggu (18/4/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Masjid Muslimin Giri Purno di Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan, Klaten memiliki tampilan khas yang berbeda dibandingkan masjid lain di Kabupaten Klaten. Masjid ini memiliki gerbang menyerupai gerbang Masjid Agung Keraton Surakarta.

Gerbang masjid yang terletak di tepi jalan desa itu memiliki tembok tebal bak benteng dengan satu pintu masuk utama dan dua pintu kecil di kanan kirinya. Di atas Plengkung pintu gerbang terdapat gambar bulan bintang, tulisan aksara Jawa dan tahun pembangunan 1932 atau tahun Jawa 1862.

Di sisi selatan masjid, terdapat kolam dengan tembok tugu di tengahnya. Pada sisi depan tugu tembok terpasang lempeng batu marmer bertuliskan aksara Jawa cukup panjang.

Bagian teras masjid ditopang enam tiang berbentuk silinder mirip tiang pada bangunan keraton. Terasnya berundak tiga dari batu andesit dan di mihrabnya terdapat simbol menyerupai simbol keraton Sri Radya Laksana.

Di sisi selatan masjid sedikit ke barat, terdapat gerbang berundak 10 tangga mirip gerbang Astana (makam) raja-raja Jawa. Gerbang itu merupakan pintu masuk ke Pasaran Ki Karsodimejo dan keluarganya.

Masjid ini konon merupakan hadiah dari Keraton Kasunanan Surakarta untuk seseorang bernama Ki Karsodimejo. Cucu Ki Karsodimejo, Sukarno (70), menceritakan kedekatan kakeknya dengan Paku Buwono X kala itu.

Masjid Muslimin Giri Purno hadiah PB X pada tabib kerajaan, Minggu (18/4/2021).Masjid Muslimin Giri Purno hadiah PB X pada tabib kerajaan, Minggu (18/4/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom

"Karena dekat dengan PB X, kakek saya diminta mengungkapkan keinginannya. Keinginan kakek adalah membangun kompleks makam mirip makam Imogiri sehingga dibantu PB X dan Ratu Mas dari Yogyakarta," tutur Sukarno pada detikcom di lokasi, Rabu (14/4/2021).

Menurut Sukarno, kakeknya sebenarnya orang biasa tetapi gemar bertirakat sehingga memiliki daya linuwih (kelebihan). Ki Karsodimejo juga disebut pernah mengobati keluarga PB X.

"Pernah ada keluarga keraton sakit kritis dibawa ke kakek saya dan sembuh. Kalau ada problem keraton pun, kadang kakek saya yang diminta saran," lanjut Sukarno.

Sukarno mengungkap saat meminta saran kepada kakeknya, raja mengirimkan utusan. Rumah kakeknya berada di Dusun Kauman, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi.

"Rumah kakek di Kahuman. Dulu kompleks masjid dan makam ini rata tanahnya tapi kemudian ditimbun tanah agar tinggi makam dan masjidnya," papar Sukarno.

Masjid Giri Purno, kata Sukarno, sampai saat ini masih terjaga keasliannya. Hanya catnya yang diganti dan keramiknya diganti yang lebih modern.

"Kakek saya meninggal sekitar tahun 1940-an," lanjut Sukarno.

Setelah kakeknya meninggal, tambah Sukarno, pengelolaan masjid diserahkan warga setempat. Dia sendiri menjadi koordinator pengelolaan makam.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...

Saksikan juga 'Penampakan Replika Menara Kudus di Masjid Peninggalan Kiai Udan Panas':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2