Saat Kompleks Kepatihan Solo Dibakar, Masjid Ini Tetap Utuh Tegak Berdiri

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Sabtu, 17 Apr 2021 14:47 WIB
Masjid Al-Fatih, Kepatihan, Solo
Masjid Al-Fatih, Kepatihan, Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Tak banyak bangunan peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta yang tersisa di bekas kompleks Ndalem Kepatihan atau tempat tinggal patih (wazir) kerajaan. Salah satu yang masih eksis ialah Masjid Al-Fatih.

Setelah peristiwa pembakaran yang membumihanguskan kompleks Ndalem Kepatihan pada 1948, bangunan-bangunan utama pun luluh lantak. Sebagian lain yang tersisa antara lain bekas garasi kereta kuda di belakang masjid.

"Yang berbentuk bangunan utuh sudah tidak ada. Semua dibumihanguskan saat Agresi Militer Belanda II kecuali masjid itu," kata Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni, komunitas sejarah dan budaya di Solo, saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/4/2021).

Menurutnya, sisa bangunan bersejarah lain yang sebenarnya masih ada ialah bekas kantor Patih Sosronegoro. Letaknya berada di timur Kejaksaan Negeri Solo.

"Tapi beberapa waktu lalu dibongkar oleh Pemkot Solo. Itu adalah Sosronegaran, kantornya Patih Sosronegoro," ujarnya.

Masjid Al-Fatih dibangun di awal pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) X, yakni tahun 1312 Hijriah atau 1984 Masehi. Masjid ini konon merupakan mahar dari PB X saat mempersunting kerabat dari Patih Sosrodiningrat IV.

Ornamen masjid pun terlihat khas Keraton Kasunanan Surakarta sehingga mirip dengan Masjid Agung Surakarta. Dua masjid ini sama-sama bercorak biru dengan gaya arsitektur Jawa.

Tiang-tiang penyangga terbuat dari kayu yang belum berubah sejak awal dibangun. Seperti Masjid Agung, sisi kanan dan kiri ruang utama terdapat ruangan lain, salah satunya digunakan untuk jemaah putri.

Di atas pintu utama terdapat kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad serta angka 1312 sebagai penanda tahun pembuatan. Sedangkan di atas pintu lainnya terdapat kaligrafi bertuliskan Abu Bakar, Utsman, Umar dan Ali yang merupakan nama Khulafaur Rasyidin.

Pada bagian utama masjid, terdapat mimbar berbahan kayu yang dipenuhi ornamen tumbuhan. Menurut ketua takmir Masjid Al-Fatih, Muhammad Sholahuddin, ornamen-ornamen itu memiliki filosofi tertentu.

"Khasnya ornamen Islami itu berbentuk tumbuhan, bukan binatang atau manusia. Selain dedaunan dan air, ada ornamen srikaya, filosofinya punya biji banyak, jadi ilmu itu terus bertumbuh, berkembang, berbuah," ujar Sholahuddin.

Masjid Al-Fatih, Kepatihan, SoloMimbar kuno di Masjid Al-Fatih, Kepatihan, Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Menurutnya, beberapa ciri khas masjid adalah bedug dan kentungan yang masih asli peninggalan zaman PB X. Selain itu, tempat wudu yang sejak dahulu dibuat menghadap kiblat.

Dalam perkembangannya, masjid mengalami perluasan sedikit demi sedikit. Hingga kini, masjid memiliki dua lantai yang dibangun di sisi timur bangunan lama.

"Zaman dulu pernah diperluas, ini kan kelihatan warna lantainya berbeda. Semakin banyak jemaah, maka kita tambah lantai dua," katanya.

(bai/mbr)