Masjid Kuno di Mantingan Jepara Ini Konon Dibangun Arsitek Cina

Dian Utoro Aji - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 04:00 WIB
Masjid Mantingan, Jepara. Peninggalan Ratu Kalinyamat.
Masjid Mantingan, Jepara. (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Jepara -

Masjid di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, ini perlu dicatat khusus. Dibangun pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat pada abad ke-16 dan dipercaya dibangun seorang ahli seni dari Cina.

Jarak lokasi Masjid Mantingan dengan pusat kota Jepara tidak jauh. Yakni sekitar 7 kilometer dari pusat kota, atau jika ditempuh dengan berkendara membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Bangunan masjid kuno tersebut berbentuk limasan. Tiang masjid terbuat dari kayu-kayu lawas. Dari depan masjid terdapat ukiran-ukiran keramik yang menempel di dinding yang dipercaya didatangkan langsung dari Cina. Sedangkan atapnya terbuat dari sirap kayu. Demikian pula mimbar khotbah terbuat dari kayu masih asli.

Juru pemelihara Masjid Mantingan, Syaikhul Aminin, masjid tersebut merupakan bangunan masjid kedua. Bangunan pertama didirikan oleh Sultan Hadiri atau Sultan Hadirin. Namun bangunan pertama itu kemudian dipindahkan ke Lamongan setelah Sang Sultan wafat dalam sebuah tragedi perebutan kekuasaan pewaris Dinasti Demak.

Masjid Mantingan, Jepara. Peninggalan Ratu Kalinyamat.Masjid Mantingan, Jepara. Peninggalan Ratu Kalinyamat. (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)

Setelah Sultan Hadiri wafat, Ratu Kalinyamat memerintah kerajaan. Dia lalu memerintahkan pembangunan masjid kembali di lokasi yang sama. Masjid Mantingan kedua tersebut, kata Amin, dibangun sekitar pada tahun 1549.

"Setelah Ratu Kalinyamat ditinggal suaminya dia naik tahta kembali, yang itu kemudian dijadikan pedoman untuk hari jadi kota Jepara, semboyan (candrasengkala) 'terus karya tatane bumi'. Setelah itu membangun masjid kedua ini," terang Amin.

Amin menjelaskan, pembangunan masjid kedua tersebut dipimpin oleh seorang seniman yang berasal dari negeri Cina bernama Tjie Hwio Gwan atau yang terkenal dengan nama lokal Sungging Badar Duwung yang dikenal ahli memahat batu dan ukir. Dia juga dikenal adalah ayah angkat Sultan Hadiri.

"Arsiteknya ini ayah angkat Sultan Hadirin dari negeri China, namanya Tjie Hwio Gwan. Setelah menetap di Jawa namanya Sungging Badar Duwung, seorang ahli pemahat batu, termasuk kenangannya ini. Konon batu putih asli dari Cina dibawa ke Jepara kemudian diukir atas bimbingan dan oleh masyarakat sekitar," terang Amin.

Masjid Mantingan, Jepara. Peninggalan Ratu Kalinyamat.Masjid Mantingan, Jepara. Peninggalan Ratu Kalinyamat. (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)

Bangunan Masjid Mantingan merupakan akulturasi sejumlah kebudayaan, di antaranya Jawa, Cina dan Hindu. Masjid Mantingan tersebut kini sudah ditetapkan menjadi benda cagar budaya nasional.

Masjid Mantingan hingga kini menjadi tempat ibadah warga sekitar dan bagi peziarah ke makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadiri yang berada satu kompleks dengan lokasi masjid.

(mbr/sip)