Berkenalan dengan Ustaz Mualaf di Balik Masjid Mirip Kelenteng Magelang

Eko Susanto - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 20:49 WIB
Masjid Al Mahdi yang sekilas mirip kelenteng di Magelang, Jateng
Masjid Al Mahdi yang sekilas mirip kelenteng di Magelang, Jateng, Rabu (14/4/2021). (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Magelang -

Bangunan masjid di Kota Magelang, Jawa Tengah, ini sekilas tampak seperti kelenteng. Bangunan masjid ini rupanya dibangun oleh Uztaz Mahdi yang merupakan seorang mualaf.

Bangunan masjid unik ini juga berada di kawasan perumahan elite Armada Estate Kota Magelang, Jalan Delima Raya No 42 Magelang. Masjid bernama Al Mahdi ini mayoritas dicat warna merah, sedangkan di bagian genting dicat warna hijau.

Masjid ini menempati lahan seluas 290 meter persegi. Bangunan masjid berukuran 9,5 m x 10,5 m. Untuk masjid ini ditambah dengan tenda di luar mampu menampung sekitar 150 sampai 200 jamaah.

Masjid bernuansa seperti kelenteng ini dibangun oleh Ustaz Mahdi yang menjadi mualaf saat kelas 4 SD. Ustaz berdarah Tionghoa ini memiliki nama asli Kwee Giok Yong dan nama Indonesia, Budi Suroso. Kemudian setelah masuk Islam, namanya diganti menjadi Mahdi.

"Saya mualaf kelas 4 SD. Dulu saya kecil tinggal di Jakarta, saya ini anak nomor delapan dari delapan bersaudara, bungsu. Kakak saya pertama kali masuk Islam dikasih nama Taufik, yang kedua dikasih nama Hidayah, yang ketiga saya namanya diganti Mahdi," kata Mahdi saat ditemui usai menjadi imam dan khatib salat Jumat, Jumat (9/4/2021).

Mahdi menceritakan saat masa kanak-kanak dia tinggal di Jakarta dan dikelilingi teman-teman beragama Islam. Meski begitu, Mahdi mengaku mendapat hidayah bukan karena ikut-ikutan.

"Saya tidak dipengaruhi oleh siapa-siapa, bahkan keluarga kita Tionghoanya kental sekali. Bahkan orang tua saya pun sudah wanti-wanti jangan sampai masuk Islam," ujarnya.

Mahdi mengenang masa kecilnya kerap bermain di area musala atau masjid sembari menunggu teman-temannya membaca Al-Qur'an. Saat menunggu temannya itu, dia mendengarkan orang yang membaca Al-Qur'an maupun membaca surat Al Fatihah. Saat itulah dia merasa hatinya menjadi tenteram.

"Zaman saya di Jakarta itu, setiap Magrib sampai Isya anak-anak nggak main di jalan, semua di musala atau di masjid. Ya belajar Qur'an, jadi anak-anak semua ngumpul di masjid. Nah karena teman-teman saya Islam semua, saya nggak punya teman, akhirnya saya nungguin juga di masjid. Saya dengar suara Qur'an, suara bacaan Al Fatihah, suara ngaji, kok begitu dengar suara itu, hati saya ada yang beda, rasanya hati tenteram, rasanya enak gitu dengar suara Qur'an dibaca ternyata jawabannya ada di Qur'an," urainya.

Pria kelahiran Surabaya pada tahun 1969 ini menambahkan, saat masih kelas 4 SD itulah dia dibimbing seorang gurunya mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia mengenang pengucapan syahadat itu dilakukan tepat seusai salat tarawih, tepatnya pada 17 Ramadhan.

"Waktu itu kelas 4 SD, 17 Ramadhan bakda Salat Tarawih saya dibimbing baca dua kalimat syahadat oleh guru saya di Cengkareng, Jakarta. Nah dari situ orang tua saya nggak tahu, lalu setelah itu saya belajar dibimbing privat guru saya almarhum Habib Muhammad Bin Hasan Alaydrus, belajar terus sampai SMA," katanya.

"Setelah itu, selesai pindah ke sini (Magelang), saya belajar kembali atas wasiat beliau di Solo. Di Solo saya belajar sama Al Habib Muhammad Anis bin Alwi Al Habsyi, setelah itu saya teruskan sampai sekarang belajar sama Habib Umar bin Husen Asseggaf," tuturnya.

Kenangan Pengalaman Bohongi Orang Tua untuk Sunat

Mahdi mengaku sunat dilakukan setelah SD menuju SMP. Ketika itu sempat mengelabui orang tua dengan dalih menjadi utusan dari sekolah untuk main basket di luar kota dan harus menginap.

"Saya sunatnya itu menjelang balig, orang dulu balignya agak telat, kalau sekarang balig cepat karena makanan, lingkungan. Saya waktu itu (sunat) pas dari SD naik SMP jadi liburan itu. Waktu itu sunat bukan seperti layaknya orang-orang, orang tua saya nggak tahu. Akhirnya saya berpikir keras bagaimana cara sunat, tapi nggak ketahuan, saya bohong sama orang tua," kenang Mahdi.

Lihat juga video 'Masjid Ka'bah di Makassar Jadi Destinasi Wisata Religi Saat Ramadhan':

[Gambas:Video 20detik]



Selengkapnya soal kisah Mahdi menjadi mualaf..

Selanjutnya
Halaman
1 2